<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Islamic Thought &#187; General</title>
	<atom:link href="http://blog.ar.or.id/islam/cats/general/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.ar.or.id/islam</link>
	<description>writing about a nasehat</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2010 17:42:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Puasa Assyura/Muharram</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 06:19:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[TBC]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Intisari:


Puasa yg paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram
Dianjurkan berpuasa pada tanggal 10, dan 9 atau 11 Muharram




&#8220;Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.&#8221; (4) [Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Thabrani, dari Jundub, seperti terdapat dalam Sahih Jami' Shagir, no. 1127. ] *1

Karena itu, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/targhib-puasa-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Targhib Puasa Ramadhan'>Targhib Puasa Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/sifat-puasa-nabi-saw' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sifat Puasa Nabi SAW'>Sifat Puasa Nabi SAW</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/memaknai-hari-iedul-fitri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Memaknai Hari Iedul Fitri'>Memaknai Hari Iedul Fitri</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Intisari:</p>

<ul>
<li>Puasa yg paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram</li>
<li>Dianjurkan berpuasa pada tanggal 10, dan 9 atau 11 Muharram</li>
</ul>

<p><span id="more-192"></span></p>

<blockquote>&#8220;Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.&#8221; (4) [Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Thabrani, dari Jundub, seperti terdapat dalam Sahih Jami' Shagir, no. 1127. ] *1</blockquote>

<p>Karena itu, berpuasalah pada bulan Muharram. Tanggalnya?</p>

<blockquote>Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Fathul Bari, 4/245. Imam Syafi’i juga menyebutkannya di dalam kitab Al-Umm). *2</blockquote>

<p>Jadi berpuasalah tanggal 10 Muharram, dan tanggal 9 atau 11 Muharram.</p>

<p>Sementara keutamaan dari puasa Muharram seperti dijelaskan dalam hadits2 berikut:</p>

<blockquote>“Tatkala Nabi Saw datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR Al Bukhari) *3</blockquote>

<blockquote>“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. HR Al Bukhari No 1897</blockquote>

<blockquote>“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”. [Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata,]</blockquote>

<blockquote>“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. [Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Ra]</blockquote>

<hr />

<p>Maraji&#8217;:</p>

<ol>
<li>http://media.isnet.org/islam/Etc/IbadahUtama.html</li>
<li>http://sunniy.wordpress.com/2008/01/05/puasa-di-bulan-muharram/</li>
<li>http://wahonot.wordpress.com/2008/01/04/sunnahnya-puasa-asyura-di-bulan-muharam/</li>
</ol>

<p>keyword: assyura, asysyura, asyura, muharram, muharam, 10 muharram</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/targhib-puasa-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Targhib Puasa Ramadhan'>Targhib Puasa Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/sifat-puasa-nabi-saw' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sifat Puasa Nabi SAW'>Sifat Puasa Nabi SAW</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/memaknai-hari-iedul-fitri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Memaknai Hari Iedul Fitri'>Memaknai Hari Iedul Fitri</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda Husnul Khatimah</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-husnul-khatimah</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-husnul-khatimah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 05:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[TBC]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini diambil dari situs Assyariah dengan diberikan sedikit perbaikan dalam tampilan dll agar mudah dibaca tanpa merubah isi.



Tanda Husnul Khatimah
Senin, 07 April 2008 &#8211; 07:21:44,
Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Kategori : Mutiara Kata

Meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan husnul khatimah merupakan dambaan setiap insan yang beriman, karena hal itu sebagai bisyarah, kabar gembira [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/bersabar-dengan-kelakuan-ummat' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bersabar dengan kelakuan ummat'>Bersabar dengan kelakuan ummat</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram' rel='bookmark' title='Permanent Link: Puasa Assyura/Muharram'>Puasa Assyura/Muharram</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/salat-lima-waktu-ramadan-ke-ramadan-penghapus-dosa' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salat lima waktu, Ramadan ke Ramadan penghapus dosa'>Salat lima waktu, Ramadan ke Ramadan penghapus dosa</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini diambil dari <a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=628">situs Assyariah</a> dengan diberikan sedikit perbaikan dalam tampilan dll agar mudah dibaca tanpa merubah isi.</p>

<p><span id="more-91"></span></p>

<p><strong>Tanda Husnul Khatimah</strong><br />
Senin, 07 April 2008 &#8211; 07:21:44,<br />
Penulis : <em>Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah</em><br />
Kategori : Mutiara Kata</p>

<p>Meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan husnul khatimah merupakan dambaan setiap insan yang beriman, karena hal itu sebagai bisyarah, kabar gembira dengan kebaikan untuknya. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menyebutkan beberapa tanda husnul khatimah dalam kitabnya yang sangat bernilai Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha. Berikut ini kami nukilkan secara ringkas untuk pembaca yang mulia, disertai harapan dan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita termasuk orang-orang yang mendapatkan husnul khatimah dengan keutamaan dan kemurahan dari-Nya. Amin!</p>

<p><strong>Pertama: mengucapkan syahadat ketika hendak meninggal</strong>,<br />
dengan dalil hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menyampaikan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>

<p><em>“Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad yang hasan [1])</em></p>

<p><strong>Kedua:  meninggal dengan keringat di dahi.</strong><br />
<em>Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu ketika berada di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Didapatkannya saudaranya ini menjelang ajalnya dalam keadaan berkeringat di dahinya. Ia pun berkata, “Allahu Akbar! Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</em><br />
مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِيْنِ</p>

<p><em>“Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi.” (HR. Ahmad, An-Nasa<code>i, dll. Sanad An-Nasa</code>i shahih di atas syarat Al-Bukhari)</em></p>

<p><strong>Ketiga: meninggal pada malam atau siang hari Jum’at</strong>,<br />
dengan dalil hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau menyebutkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ</p>

<p><em>“Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi. Hadits ini memiliki syahid dari hadits Anas, Jabir bin Abdillah g dan selain keduanya, maka hadits ini dengan seluruh jalannya hasan atau shahih)</em></p>

<p><strong>Keempat: syahid di medan perang.</strong><br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ. فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ. يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ</p>

<blockquote>Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka beriang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka. Ketahuilah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 169-171)</blockquote>

<p>Dalam hal ini ada beberapa hadits:<br />
1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
لِلشَّهِيْدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ الْفَزَعَ الْأَكْبَرَ، وَيُحَلَّى حِلْيَةَ الْإِيْمَانِ، وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِيْنَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ</p>

<p><em>“Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih)</em><br />
2. Salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan: <em>Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapatkan fitnah (ditanya) dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:</em><br />
كَفَى بِبَارَقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً</p>

<p><em>“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah (ujian).” (HR. An-Nasa`i dengan sanad yang shahih)</em></p>

<p><strong>Kelima: meninggal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.</strong><br />
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَا تَعُدُّوْنَ الشَّهِيْدَ فِيْكُمْ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ. قَالَ: إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيْلٌ. قَالُوْا: فَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فيِ الطَّاعُوْنَ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَالْغَرِيْقُ شَهِيْدٌ</p>

<p><em>“Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.” Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha’un2 maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim)</em></p>

<p><strong>Keenam: meninggal karena penyakit tha’un.</strong><br />
Selain disebutkan dalam hadits di atas juga ada hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
<em>“Tha’un adalah syahadah bagi setiap muslim.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</em><br />
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tha’un, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya:<br />
إِنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلىَ مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُوْنُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ</p>

<p><em>“Tha’un itu adalah adzab yang Allah kirimkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Maka Allah jadikan tha’un itu sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Siapa di antara hamba (muslim) yang terjadi wabah tha’un di tempatnya berada lalu ia tetap tinggal di negerinya tersebut dalam keadaan bersabar, dalam keadaan ia mengetahui tidak ada sesuatu yang menimpanya melainkan karena Allah telah menetapkan baginya, maka orang seperti ini tidak ada yang patut diterimanya kecuali mendapatkan semisal pahala syahid.” (HR. Al-Bukhari)</em></p>

<p><strong>Ketujuh: meninggal karena penyakit perut, karena tenggelam, dan tertimpa reruntuhan,</strong><br />
berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ</p>

<p><em>“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</em></p>

<p><strong>Kedelapan: meninggalnya seorang ibu dengan anak yang masih dalam kandungannya,</strong><br />
berdasarkan hadits Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu ‘anhu. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa syuhada dari umatnya di antaranya:<br />
الْمَرْأَةُ يَقْتُلُهَا وَلَدُهَا جَمْعَاءَ شَهَادَةٌ، يَجُرُّهَا وَلَدُهَا بِسَرَرِهِ إِلَى الْجَنَّةِ</p>

<p><em>“Wanita yang meninggal karena anaknya yang masih dalam kandungannya adalah mati syahid, anaknya akan menariknya dengan tali pusarnya ke surga.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, dan Ath-Thayalisi dan sanadnya shahih)</em></p>

<p><strong>Kesembilan: meninggal dalam keadaan berjaga-jaga (ribath) fi sabilillah.</strong><br />
Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menyebutkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأًُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتّاَنَ</p>

<p><em>“Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizkinya serta aman dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim)</em></p>

<p><strong>Kesepuluh: meninggal dalam keadaan beramal shalih.</strong><br />
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>

<p><em>“Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih)</em></p>

<p><strong>Kesebelas: meninggal karena mempertahankan hartanya yang ingin dirampas orang lain.</strong><br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ</p>

<p><em>“Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)</em><br />
<em>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu bila datang seseorang ingin mengambil hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan engkau berikan hartamu.” Ia bertanya lagi, “Apa pendapatmu jika orang itu menyerangku?” “Engkau melawannya,” jawab beliau. “Apa pendapatmu bila ia berhasil membunuhku?” tanya orang itu lagi. Beliau menjawab, “Kalau begitu engkau syahid.” “Apa pendapatmu jika aku yang membunuhnya?” tanya orang tersebut. “Ia di neraka,” jawab beliau. (HR. Muslim)</em></p>

<p><strong>Keduabelas: meninggal karena membela agama dan mempertahankan jiwa/membela diri.</strong><br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:<br />
مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ</p>

<p><em>“Siapa yang meninggal karena mempertahankan hartanya maka ia syahid, siapa yang meninggal karena membela keluarganya maka ia syahid, siapa yang meninggal karena membela agamanya maka ia syahid, dan siapa yang meninggal karena mempertahankan darahnya maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan At Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu dan sanadnya shahih)</em></p>

<p>Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.</p>

<hr />

<p>1 Penghukuman hadits ini dari Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam kitab yang sama.<br />
2 Satu pendapat menyebutkan bahwa tha’un adalah luka-luka semacam bisul bernanah yang biasa muncul di siku, ketiak, tangan, jari-jari dan seluruh tubuh, disertai dengan bengkak serta sakit yang sangat. Luka-luka itu keluar disertai rasa panas dan menghitam daerah sekitarnya, atau menghijau ataupun memerah dengan merah lembayung (ungu) yang suram. Penyakit ini membuat jantung berdebar-debar dan memicu muntah. (Lihat Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 14/425)
Penjelasan lain tentang tha’un bisa dilihat dalam Fathul Bari, 10/222,223) -pent.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/bersabar-dengan-kelakuan-ummat' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bersabar dengan kelakuan ummat'>Bersabar dengan kelakuan ummat</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram' rel='bookmark' title='Permanent Link: Puasa Assyura/Muharram'>Puasa Assyura/Muharram</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/salat-lima-waktu-ramadan-ke-ramadan-penghapus-dosa' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salat lima waktu, Ramadan ke Ramadan penghapus dosa'>Salat lima waktu, Ramadan ke Ramadan penghapus dosa</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-husnul-khatimah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat keputusan, pelajaran dari Tariq bin Ziyad</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/membuat-keputusan-pelajaran-dari-tariq-bin-ziyad</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/membuat-keputusan-pelajaran-dari-tariq-bin-ziyad#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 13:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[TBC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/index.php/membuat-keputusan-pelajaran-dari-tariq-bin-ziyad/2008-02-27/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini terinspirasi dari tulisan di NY Times..

(masih di fikiran&#8230;)


TierneyLab

The Advantages of Closing a Few Doors &#8211; New York Times

February 26, 2008
Findings
The Advantages of Closing a Few Doors
By JOHN TIERNEY

The next time you’re juggling options — which friend to see, which house to buy, which career to pursue — try asking yourself this question: What [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini terinspirasi dari tulisan di NY Times..</p>

<p>(masih di fikiran&#8230;)</p>

<p><span id="more-89"></span>
<a href="http://tierneylab.blogs.nytimes.com/2008/02/25/dear-irrational-reader-close-the-door/">TierneyLab</a></p>

<p><a href="http://www.nytimes.com/2008/02/26/science/26tier.html?em&#038;ex=1204261200&#038;en=c56122843b1ec447&#038;ei=5087%0A">The Advantages of Closing a Few Doors &#8211; New York Times</a></p>

<p>February 26, 2008
Findings
The Advantages of Closing a Few Doors
By JOHN TIERNEY</p>

<p>The next time you’re juggling options — which friend to see, which house to buy, which career to pursue — try asking yourself this question: What would Xiang Yu do?</p>

<p>Xiang Yu was a Chinese general in the third century B.C. who took his troops across the Yangtze River into enemy territory and performed an experiment in decision making. He crushed his troops’ cooking pots and burned their ships.</p>

<p>He explained this was to focus them on moving forward — a motivational speech that was not appreciated by many of the soldiers watching their retreat option go up in flames. But General Xiang Yu would be vindicated, both on the battlefield and in the annals of social science research.</p>

<p>He is one of the role models in Dan Ariely’s new book, “Predictably Irrational,” an entertaining look at human foibles like the penchant for keeping too many options open. General Xiang Yu was a rare exception to the norm, a warrior who conquered by being unpredictably rational.</p>

<p><strong>Most people can’t make such a painful choice, not even the students at a bastion of rationality like the Massachusetts Institute of Technology, where Dr. Ariely is a professor of behavioral economics. In a series of experiments, hundreds of students could not bear to let their options vanish, even though it was obviously a dumb strategy (and they weren’t even asked to burn anything).</strong></p>

<p>The experiments involved a game that eliminated the excuses we usually have for refusing to let go. In the real world, we can always tell ourselves that it’s good to keep options open.</p>

<p>You don’t even know how a camera’s burst-mode flash works, but you persuade yourself to pay for the extra feature just in case. You no longer have anything in common with someone who keeps calling you, but you hate to just zap the relationship.</p>

<p>Your child is exhausted from after-school soccer, ballet and Chinese lessons, but you won’t let her drop the piano lessons. They could come in handy! And who knows? Maybe they will.</p>

<p>In the M.I.T. experiments, the students should have known better. They played a computer game that paid real cash to look for money behind three doors on the screen. (You can play it yourself, without pay, at tierneylab.blogs.nytimes.com.) After they opened a door by clicking on it, each subsequent click earned a little money, with the sum varying each time.</p>

<p>As each player went through the 100 allotted clicks, he could switch rooms to search for higher payoffs, but each switch used up a click to open the new door. The best strategy was to quickly check out the three rooms and settle in the one with the highest rewards.</p>

<p>Even after students got the hang of the game by practicing it, they were flummoxed when a new visual feature was introduced. If they stayed out of any room, its door would start shrinking and eventually disappear.</p>

<p>They should have ignored those disappearing doors, but the students couldn’t. They wasted so many clicks rushing back to reopen doors that their earnings dropped 15 percent. Even when the penalties for switching grew stiffer — besides losing a click, the players had to pay a cash fee — the students kept losing money by frantically keeping all their doors open.</p>

<p>Why were they so attached to those doors? The players, like the parents of that overscheduled piano student, would probably say they were just trying to keep future options open. But that’s not the real reason, according to Dr. Ariely and his collaborator in the experiments, Jiwoong Shin, an economist who is now at Yale.</p>

<p>They plumbed the players’ motivations by introducing yet another twist. This time, even if a door vanished from the screen, players could make it reappear whenever they wanted. But even when they knew it would not cost anything to make the door reappear, they still kept frantically trying to prevent doors from vanishing.</p>

<p><strong>Apparently they did not care so much about maintaining flexibility in the future. What really motivated them was the desire to avoid the immediate pain of watching a door close.</p>

<p>“Closing a door on an option is experienced as a loss, and people are willing to pay a price to avoid the emotion of loss,” Dr. Ariely says. In the experiment, the price was easy to measure in lost cash. In life, the costs are less obvious — wasted time, missed opportunities. If you are afraid to drop any project at the office, you pay for it at home.</strong></p>

<p>“We may work more hours at our jobs,” Dr. Ariely writes in his book, “without realizing that the childhood of our sons and daughters is slipping away. Sometimes these doors close too slowly for us to see them vanishing.”</p>

<p>Dr. Ariely, one of the most prolific authors in his field, does not pretend that he is above this problem himself. When he was trying to decide between job offers from M.I.T. and Stanford, he recalls, within a week or two it was clear that he and his family would be more or less equally happy in either place. But he dragged out the process for months because he became so obsessed with weighing the options.</p>

<p>“I’m just as workaholic and prone to errors as anyone else,” he says.. “I have way too many projects, and it would probably be better for me and the academic community if I focused my efforts. But every time I have an idea or someone offers me a chance to collaborate, I hate to give it up.”</p>

<p>So what can be done? One answer, Dr. Ariely said, is to develop more social checks on overbooking. He points to marriage as an example: “In marriage, we create a situation where we promise ourselves not to keep options open. We close doors and announce to others we’ve closed doors.”</p>

<p>Or we can just try to do it on our own. Since conducting the door experiments, Dr. Ariely says, he has made a conscious effort to cancel projects and give away his ideas to colleagues. He urges the rest of us to resign from committees, prune holiday card lists, rethink hobbies and remember the lessons of door closers like Xiang Yu.</p>

<p>If the general’s tactics seem too crude, Dr. Ariely recommends another role model, Rhett Butler, for his supreme moment of unpredictable rationality at the end of his marriage. Scarlett, like the rest of us, can’t bear the pain of giving up an option, but Rhett recognizes the marriage’s futility and closes the door with astonishing elan. Frankly, he doesn’t give a damn.</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/membuat-keputusan-pelajaran-dari-tariq-bin-ziyad/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop for Prayer!</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/stop-for-prayer</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/stop-for-prayer#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Nov 2006 13:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/index.php/stop-for-prayer/2006-11-30/</guid>
		<description><![CDATA[


No related posts.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="425" height="350"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/foBK_WfUH7Y"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/foBK_WfUH7Y" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"></embed></object></p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/stop-for-prayer/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pray before it&#8217;s too late</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/pray-vefore-its-too-late</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/pray-vefore-its-too-late#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Nov 2006 13:36:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/index.php/pray-vefore-its-too-late/2006-11-30/</guid>
		<description><![CDATA[


No related posts.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="425" height="350"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/oh-hkcF0WDo"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/oh-hkcF0WDo" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"></embed></object></p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/pray-vefore-its-too-late/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mushab bin Umair (wafat 3 H/ 625 M)</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/mushab-bin-umair-wafat-3-h-625-m</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/mushab-bin-umair-wafat-3-h-625-m#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Nov 2006 07:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/index.php/mushab-bin-umair-wafat-3-h-625-m/2006-11-09/</guid>
		<description><![CDATA[Dari link ini:

Beliau termasuk sahabat yang mempunyai keistimewaan. Dia memeluk
Islam tetapi merahasiakan keislamannya terhadap keluarganya. Setelah
keluarganya mengetahui keislamannya, mereka mengurungnya kemudian
melepaskannya kembali. Setelah itu dia ikut berijrah ke Abessinia
dan kembali ke Mekah seusai baiat Akabah I. Beliau menyibukkan diri
mengajari kaum muslimin Al Qur`an dan mengimami salat mereka. Beliau
sempat mengikuti perang Badar dan Uhud membawahi sebuah [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari <a href="http://dkmfahutan.wordpress.com/2006/09/12/para-sahabat-5/">link ini</a>:</p>

<blockquote>Beliau termasuk sahabat yang mempunyai keistimewaan. Dia memeluk
Islam tetapi merahasiakan keislamannya terhadap keluarganya. Setelah
keluarganya mengetahui keislamannya, mereka mengurungnya kemudian
melepaskannya kembali. Setelah itu dia ikut berijrah ke Abessinia
dan kembali ke Mekah seusai baiat Akabah I. Beliau menyibukkan diri
mengajari kaum muslimin Al Qur`an dan mengimami salat mereka. Beliau
sempat mengikuti perang Badar dan Uhud membawahi sebuah brigade.
Beliau mati syahid dalam perang Uhud)</blockquote>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/mushab-bin-umair-wafat-3-h-625-m/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>National Debate about Muslims and Free Speech</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/national-debate-about-muslims-and-free-speech</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/national-debate-about-muslims-and-free-speech#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Oct 2006 06:23:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/index.php/national-debate-about-muslims-and-free-speech/2006-10-30/</guid>
		<description><![CDATA[

Some conclusion remark (not exactly):
&#8220;Nobody forbid mr Straw to say what he like or did not like. But I choose to sacrifice my right in Freedom of Speech, to enhance the cohesion of the community, for a greater goodness&#8220;

5000


No related posts.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="425" height="350"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/sI1vIj2iTRY"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/sI1vIj2iTRY" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"></embed></object></p>

<p>Some conclusion remark (not exactly):
&#8220;<em>Nobody forbid mr Straw to say what he like or did not like. But I choose to sacrifice my right in Freedom of Speech, to enhance the cohesion of the community, for a greater goodness</em>&#8220;</p>

<p>5000</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/national-debate-about-muslims-and-free-speech/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
