02.03.11
Protected: a journey of life
Permalink Enter your password to view comments.
writing about a nasehat
Ibadah Haji, mempunyai begitu banyak sekali hikmah dengan berbagai dimensi. Karena itulah, dalam rukun Islam ibadah Haji diletakkan sebagai kewajiban nomor 5, yaitu setelah semua ibadah lainnya sudah terlaksana. Tidak mungkin orang pergi Haji dan sah Hajinya, jika ia belum bisa memenuhi kewajiban Syahadah, Shalat, Puasa dan Zakat sebab saat melakukan Haji ada keempat unsur tersebut.
Hikmah dari ibadah Haji tidak akan habis dikupas. Kali ini akan coba dikupas mengenai ibadah Sa’i yang menjadi bagian dari syarat sahnya Haji.
Disebutkan bahwa ibadah Sa’i diadaptasi dari peristiwa berlari-larinya Siti Hajar saat ingin memberikan minuman kepada Nabi Ismail yang kehausan. Melihat Ismail kecil yang kehausan, naluri keibuan Siti Hajar bangkit dan beliau mencoba mencari air didaerah gurun tempat beliau ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim.
Dalam pencarian air tersebut, Siti Hajar berlari-lari diantara 2 bukit yaitu bukit Shofa dan Marwa sebanyak 7 kali. Beliau berlari-lari mencari ditengah kesulitan dipadang pasir yang panas dan gersang, serta kemungkinan kecilnya mendapatkan air tersebut. Mencari air ditanah saja sulit, apalagi mencari air di padang pasir. Tetapi walaupun menghadapi kesulitan dan rintangan seperti itu, beliau tetap berusaha tanpa putus asa akan Rahmat Allah. Hingga sampai yang ketujuh beliau berhenti, dan mendapati pertolongan Allah berupa air ZamZam yang memancar dari tanah melalui hentakan kaki Ismail kecil.
Peristiwa ini adalah peristiwa penting yang penuh hikmah, dan para jemaah haji dan umrah yang melakukan sa’i sebaiknya membayangkan perjuangan beliau tersebut. Walaupun kondisi Masjidi Haram saat ini ber-AC dan tertutup atap sehingga terasa nyaman, tetapi jangan lupa untuk membayangkan perjuangan Siti Hajar yang luar biasa ini.
Ada beberapa hikmah yang bisa diambil:
Siti Hajar mempunyai keyakinan tinggi kepada Allah, sehingga dalam kondisi yang kecil kemungkinannya mendapatkan air pun, beliau masih terus berusaha dan berusaha.
Terkadang dalam kehidupan sehari-hari kita juga merasa lelah dalam mencapai apa yang kita cita-citakan. Pembaca, jangan pernah merasa lelah apalagi putus asa, karena orang yang putus asa berarti dirinya sudah mendekati kekufuran.
Walaupun tujuan dari perjuangan Siti Hajar adalah air ZamZam, tetapi yang Allah abadikan untuk ditiru adalah amal usaha Siti Hajar yaitu lari 7 kali diantara bukit Shofa dan Marwa. Sekali lagi, bukan air ZamZam yang diminum yang dijadikan Allah syarat sah Haji.
Terkadang dalam perjalanan mengejar cita-cita dan tujuan, kita sering terlena dan berubah niat karena berbagai hal seperti misalnya karena mendapatkan rintangan yang berat. Pembaca, ketahuilah bahwa yang Allah abadikan dalam bentuk pahala adalah amal usaha kita, proses kita mencapai tujuan/sasaran kita, dan bukan apakah kita berhasil meraih apa yang kita cita-citakan tersebut. Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan kalau Allah mengizinkan, sementara kalau Allah tidak berkenan maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa.
Jadi pada dasarnya apa yang kita raih bukanlah karena usaha kita, tetapi karena izin Allah. Sementara, kita mendapatkan pahala dari usaha kita, dan bukan dari apa yang kita inginkan. Janganlah lelah kalau anda sedang berjuang, karena justru perjuangan yang ikhlas itulah yang akan berbuah pahala besar, dan bukan target/sasaran yang dicapai.
TBC
Maraji’:
Hari ini ketemu link berikut:
Situs-situs yang dibuat menarik, sehingga memberikan terobosan dalam memperkenalkan Islam kepada dunia
“Bukankah balasan kebaikan (ihsan) adalah kebaikan pula?” (al-Rahman 60)
Saat melakukan amal, perlu diperhatikan: - ikhlas - metode yang baik sesuai Nabi SAW - Yang penting adalah kualitas amal yang terus berlanjut, bukan kuantitas amal yang jarang dilakukan
Maraji’:
Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semuanya, karena hidayah itu hanya datang dari Allah. Hadits yang akan kita bahas adalah, Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu’anhum, ia berkata: Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw: Orang Islam manakah yang paling baik? Rasulullah menjawab: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.57) Hadis riwayat Abu Musa radhiyallahu’anhuma, ia berkata: Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama? Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. (Shahih Muslim No.59)
Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” [HR. Bukhari] Abu Musa radhiyallahu’anhuma berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. “‘[HR. Bukhari]
(ringkasan/tafsir dari artikel Istighfar, Pesan Para Nabi dari Dakwatuna)
Ayat penting: 11:1-4,52,61,90; 3:135; 8:33
Surat Hud adalah surat yang membuat Abu bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah saw beruban. Keterkejutan ini dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, “Surat Hud dan saudara2nya telah membuat rambutku beruban”. Ternyata surat Hud dan surat2 terkait sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui lisan para nabiyullah Hud AS, Sholih AS dan Syu’aib AS.
Secara aplikatif, kebiasaan beristighfar sudah dicotohkan oleh Rasulullah saw. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim). Pelajaran yang diambil dari perilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali.
Istighfar merupakan bukti penghambaan seorang manusia terhadap Penciptanya. Sebab hanya seorang hamba yang akan meminta ampun kepada penguasa dirinya. Begitu juga sebaliknya, Iblis, sebagai contoh makhluk yang sesat dan menyesatkan, saat di usir oleh Allah, bukannya istighfar malah menantang Allah. Kebiasaan beristighfar juga mereflesikan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan Ke-Maha Pengampunan Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam
Istighfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Ali Imran:135)
Istighfar merupakan sumber kekuatan umat (Hud:52)
Istighfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT (Al-Anfaal:33)
Istighfar akan memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang. (11:52) “Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (Ibnu Majah)
Wallahu’alam
Kutipan hadits arba’in an-nawawi nomor 2:
Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda,”Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Dia berkata,”Beritahukan aku tentang tanda-tandanya”, beliau bersabda, “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya“
Dalam tafsir hadits klasik, disebutkan anjuran bahkan larangan untuk tidak membangkang terhadap orang tua, beserta larangan untuk tidak meninggikan bangunan. Penafsiran seperti ini jika disalah artikan akan menjadi salah satu penyebab kemunduran umat islam karena umat islam disalah artikan sebagai anti kemajuan zaman. Padahal, syariah islam adalah syariah akhir zaman yang tidak akan diturunkan syariah lain hingga berakhirnya dunia ini (kiamat).
Lalu bagaimana mensikapi hal ini?
Pertama, jelas kita harus menghormati orang tua. Namun pembangkangan terhadap orang tua tidak terjadi pada saat ini saja, melainkan sejak zaman Nabi Adam AS pun terjadi. Sehingga, bukan itu poin yang ingin disampaikan oleh Nabi dalam dialognya dengan Jibril.
Kedua, kita tidak boleh berpandangan jumud yang menganggap bahwa kita tidak boleh maju. Justru kita sebagai manusia, berbeda dengan malaikat, dimana kita dianugrahkan kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan dan membangun serta memakmurkan bumi. Sehingga tidak mungkin dalam syariat akhir zaman ini (yaitu syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW) justru kita dilarang untuk membangun dan memakmurkan bumi dengan cara larangan mendirikan bangunan.
Ketiga, penyampaian tanda-tanda ini bukan dalam konteks larangan. Seperti saat kita bertanya kepada seseorang saat tersesat dalam perjalanan, maka tanda-tanda yang disampaikan adalah tanda-tanda yang mudah dipahami oleh orang yang menyampaikan maupun tentu saja orang yang bertanya. Dalam hal ini, berikut hal yang bisa kita pahami dari hadits tersebut.
“seorang hamba melahirkan tuannya”
Nabi SAW sebagai seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), tentu tidak mengenal istilah bioteknologi yang lahir diabad ke 21, dan semakin maju di abad ke 22 ini. Nabi menyampaikan tanda-tanda akhir zaman dalam bentuk bahasa yang mudah dipahami saat itu, dan tentu saja mudah dipahami oleh manusia zaman sekarang. Dalam beberapa tahun kedepan, kita akan lihat kemajuan yang semakin pesat dalam bidang bioteknologi, sehingga akan bisa kita saksikan seorang hamba/pegawai dibayar untuk melahirkan anak tuan/pemilik perusahaan.
“seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya”
Hadits ini menceritakan mengenai urbanisasi serta modernisasi perkotaan yang sangat pesat ditandai dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang.
Pada akhirnya, hadits ini menceritakan mengenai tanda-tanda kondisi diakhir zaman, tanpa memberikan larangan ataupun anjuran selain tanda-tanda. Dan kita bisa lihat sendiri kondisi disekeliling kita untuk kemudian mencocokkan dengan hadits tersebut.
Yang jauh lebih penting bagi kita sebenarnya adalah menyiapkan ‘kiamat kecil’, yaitu kematian yang pasti akan menemui kita semua.
Selain itu, hadits ini sebenarnya secara keseluruhan juga memberikan ciri dan syarat menjadi manusia muslim modern, yang berbeda dengan manusia muslim sebelum zaman Nabi SAW. Ulasan mengenai hal ini insya Allah akan ditulis dikemudian hari
Wallahu’alam bishawab
Salah satu tugas seorang muslim adalah tahrirun nas min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadatillah , yang berarti membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata. *1
Itulah kenapa seorang prajurit biasa bernama Rub’ie bin Amir, berani berkata kepada pimpinan perang bangsa Persia “Allah telah menampilkan kami umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia kepada menyembah Allah semata, dari sempitnya dunia (jahilinyah) kepada keluasaan (ilmu pengetahuan), dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam“. *2
TBC
Allah berfirman: “Maka disebabkan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka.” (QS. Ali Imraan: 159)
Maraji’: