02.14.10
Protected: my cup is empty
Permalink Enter your password to view comments
writing about a nasehat
(ringkasan/tafsir dari artikel Istighfar, Pesan Para Nabi dari Dakwatuna)
Ayat penting: 11:1-4,52,61,90; 3:135; 8:33
Surat Hud adalah surat yang membuat Abu bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah saw beruban. Keterkejutan ini dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, “Surat Hud dan saudara2nya telah membuat rambutku beruban”. Ternyata surat Hud dan surat2 terkait sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui lisan para nabiyullah Hud AS, Sholih AS dan Syu’aib AS.
Secara aplikatif, kebiasaan beristighfar sudah dicotohkan oleh Rasulullah saw. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim). Pelajaran yang diambil dari perilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali.
Istighfar merupakan bukti penghambaan seorang manusia terhadap Penciptanya. Sebab hanya seorang hamba yang akan meminta ampun kepada penguasa dirinya. Begitu juga sebaliknya, Iblis, sebagai contoh makhluk yang sesat dan menyesatkan, saat di usir oleh Allah, bukannya istighfar malah menantang Allah. Kebiasaan beristighfar juga mereflesikan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan Ke-Maha Pengampunan Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam
Istighfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Ali Imran:135)
Istighfar merupakan sumber kekuatan umat (Hud:52)
Istighfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT (Al-Anfaal:33)
Istighfar akan memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang. (11:52) “Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (Ibnu Majah)
Wallahu’alam
Kutipan hadits arba’in an-nawawi nomor 2:
Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda,”Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Dia berkata,”Beritahukan aku tentang tanda-tandanya”, beliau bersabda, “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya“
Dalam tafsir hadits klasik, disebutkan anjuran bahkan larangan untuk tidak membangkang terhadap orang tua, beserta larangan untuk tidak meninggikan bangunan. Penafsiran seperti ini jika disalah artikan akan menjadi salah satu penyebab kemunduran umat islam karena umat islam disalah artikan sebagai anti kemajuan zaman. Padahal, syariah islam adalah syariah akhir zaman yang tidak akan diturunkan syariah lain hingga berakhirnya dunia ini (kiamat).
Lalu bagaimana mensikapi hal ini?
Pertama, jelas kita harus menghormati orang tua. Namun pembangkangan terhadap orang tua tidak terjadi pada saat ini saja, melainkan sejak zaman Nabi Adam AS pun terjadi. Sehingga, bukan itu poin yang ingin disampaikan oleh Nabi dalam dialognya dengan Jibril.
Kedua, kita tidak boleh berpandangan jumud yang menganggap bahwa kita tidak boleh maju. Justru kita sebagai manusia, berbeda dengan malaikat, dimana kita dianugrahkan kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan dan membangun serta memakmurkan bumi. Sehingga tidak mungkin dalam syariat akhir zaman ini (yaitu syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW) justru kita dilarang untuk membangun dan memakmurkan bumi dengan cara larangan mendirikan bangunan.
Ketiga, penyampaian tanda-tanda ini bukan dalam konteks larangan. Seperti saat kita bertanya kepada seseorang saat tersesat dalam perjalanan, maka tanda-tanda yang disampaikan adalah tanda-tanda yang mudah dipahami oleh orang yang menyampaikan maupun tentu saja orang yang bertanya. Dalam hal ini, berikut hal yang bisa kita pahami dari hadits tersebut.
“seorang hamba melahirkan tuannya”
Nabi SAW sebagai seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), tentu tidak mengenal istilah bioteknologi yang lahir diabad ke 21, dan semakin maju di abad ke 22 ini. Nabi menyampaikan tanda-tanda akhir zaman dalam bentuk bahasa yang mudah dipahami saat itu, dan tentu saja mudah dipahami oleh manusia zaman sekarang. Dalam beberapa tahun kedepan, kita akan lihat kemajuan yang semakin pesat dalam bidang bioteknologi, sehingga akan bisa kita saksikan seorang hamba/pegawai dibayar untuk melahirkan anak tuan/pemilik perusahaan.
“seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya”
Hadits ini menceritakan mengenai urbanisasi serta modernisasi perkotaan yang sangat pesat ditandai dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang.
Pada akhirnya, hadits ini menceritakan mengenai tanda-tanda kondisi diakhir zaman, tanpa memberikan larangan ataupun anjuran selain tanda-tanda. Dan kita bisa lihat sendiri kondisi disekeliling kita untuk kemudian mencocokkan dengan hadits tersebut.
Yang jauh lebih penting bagi kita sebenarnya adalah menyiapkan ‘kiamat kecil’, yaitu kematian yang pasti akan menemui kita semua.
Selain itu, hadits ini sebenarnya secara keseluruhan juga memberikan ciri dan syarat menjadi manusia muslim modern, yang berbeda dengan manusia muslim sebelum zaman Nabi SAW. Ulasan mengenai hal ini insya Allah akan ditulis dikemudian hari
Wallahu’alam bishawab
Salah satu tugas seorang muslim adalah tahrirun nas min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadatillah , yang berarti membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata. *1
Itulah kenapa seorang prajurit biasa bernama Rub’ie bin Amir, berani berkata kepada pimpinan perang bangsa Persia “Allah telah menampilkan kami umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia kepada menyembah Allah semata, dari sempitnya dunia (jahilinyah) kepada keluasaan (ilmu pengetahuan), dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam“. *2
TBC
Allah berfirman: “Maka disebabkan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka.” (QS. Ali Imraan: 159)
Maraji’:
Pernahkah anda berfikir, kenapa saat masa kekhalifahan tidak terjadi gelembung ekonomi? Bukti tersebut bisa dilihat dari Wikipedia tentang Economic Bubble. Padahal catatan tentang gelembung ekonomi ini sudah ada sejak tahun 1637 (lihat bagian contoh dari artikel di Wikipedia). Dalam konsep ekonomi kapitalisme, gelembung ekonomi adalah suatu keniscayaan seperti yang dijelaskan dalam artikel Boom and Bust.
Jawabannya adalah karena memang sistim ekonomi Islam sama sekali tidak cocok dengan sistim ekonomi yang berlaku dalam konsep Kapitalisme, maupun bahkan juga dengan konsep Komunisme. Karena tidak cocok, maka parameter-parameter yang dipakai pun juga berbeda.
Tetapi herannya, kenapa kok tidak ada ekonom dari umat islam yang menyoroti masalah ini?
Tidak bisa dipungkiri, bicara ekonomi secara konsep, harus juga membicarakan politik. Dan kalau sudah bicara politik, pasti akan menyentuh sisi militer atau sisi kekuatan. Sementara kondisi negara maupun bangsa-bangsa yang mayoritas Muslim masih jauh dari kategori kuat (baca: menjadi soko guru dan pengayom dunia). Sehingga wajarlah kalau para ekonom muslim pun seperti mandul dan berbicara selalu dalam konteks sistim ekonomi kapitalis.
Padahal dunia membutuhkan ketenangan dan kestabilan, sebab krisis ekonomi biasanya akan memicu kerusuhan, kejahatan dan lain-lain seperti juga diakui oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia ekonomi.
Biarlah orang lain mencibir,
yg penting Allah sayang kita..
Jgn hiraukan apa kata orang,
tp perhatikan apa firman Allah..
Allah ghoyatuna,
Rasul qudwatuna,
Al-Quran dusturuna..
(saduran dari artikel ini)
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari)
Dari Umar r.a., bahwa Nabi saw. Bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)
Kalau diperinci bentuk amal sholehnya, bisa dalam bentuk 8 amalan dibawah:
Saudaraku, jika anda belum pergi haji padahal mampu, bacalah berita di NYTimes ini.
Ada kisah keluarga yang begitu ingin pergi Haji (“Their greatest wish is to go to Mecca once”), tetapi dihalang-halangi dengan berbagai ancaman dan peraturan. Halangan tersebut dalam bentuk pencabutan uang pensiun, peraturan batas umur, peraturan anaknya harus sudah mampu, dan lain sebagainya.
Jangan sampai Allah mencabut rasa keinginan untuk berhaji karena alasan-alasan yang anda kemukakan dalam hati, alasan-alasan yang pada dasarnya di hati terdalam anda sendiri tahu itu adalah alasan yang mengada-ada.
Semoga kita dimudahkan Allah untuk pergi Haji. Amin.