<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Islamic Thought &#187; Ulama</title>
	<atom:link href="http://blog.ar.or.id/islam/cats/ulama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.ar.or.id/islam</link>
	<description>writing about a nasehat</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2010 17:42:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cinta dan Mencintai Alloh</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/cinta-dan-mencintai-alloh</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/cinta-dan-mencintai-alloh#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 12:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[disadur ulang supaya enak dibaca dari Nia Al Akhfiya&#8217;s blog

Definisi Cinta

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, &#8220;Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; memba-tasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka ba-tasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.
Kebanyakan orang hanya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/mencintai-saudara-sebagaimana-mencintai-diri-sendiri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri'>Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/58' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengukur Cinta kepada Allah'>Mengukur Cinta kepada Allah</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>disadur ulang supaya enak dibaca dari <a href="http://azuraakhfiya.blogspot.com/2008/09/cinta-dan-mencintai-alloh.html">Nia Al Akhfiya&#8217;s blog</a></em></p>

<p><strong>Definisi Cinta</strong></p>

<p>Imam Ibnu Qayyim mengatakan, &#8220;Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; memba-tasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka ba-tasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.
Kebanyakan orang hanya membe-rikan penjelasan dalam hal sebab-musabab, konsekuensi, tanda-tanda, penguat-penguat dan buah dari cinta serta hukum-hukumnya. Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung kepada pengetahuan,kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini. (Madarijus-Salikin 3/11)</p>

<p><span id="more-263"></span></p>

<p><strong>Beberapa definisi cinta</strong></p>

<ol>
<li>Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).</li>
<li>Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.</li>
<li>Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seiya sekata dengannya, baik dengan sembunyi-sebunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.</li>
<li>Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.</li>
<li>Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.</li>
</ol>

<p><strong>Pembagian Cinta</strong></p>

<ol>
<li>Cinta ibadah<br />
Ialah kecintaan yang menyebabkan timbulnya perasaan hina kepadaNya dan mengagungkanNya serta bersema-ngatnya hati untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya.
Cinta yang demikian merupakan pokok keimanan dan tauhid yang pelakunya akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang tidak terhingga.
Jika ini semua diberikan kepada selain Allah maka dia terjerumus ke dalam cinta yang bermakna syirik, yaitu menyekutukan Allah dalam hal cinta.</li>
<li>Cinta karena Allah<br />
Seperti mencintai sesuatu yang dicintai Allah, baik berupa tempat tertentu, waktu tertentu, orang tertentu, amal perbuatan, ucapan dan yang semisalnya. Cinta yang demikian termasuk cinta dalam rangka mencintai Allah.</li>
<li>Cinta yang sesuai dengan tabi&#8217;at (manusiawi),<br />
yang termasuk ke dalam cintai jenis ini ialah:

<ol>
<li>Kasih-sayang, seperti kasih-sayangnya orang tua kepada anaknya dan sayangnya orang kepada fakir-miskin atau orang sakit.</li>
<li>Cinta yang bermakna segan dan hormat, namun tidak termasuk dalam jenis ibadah, seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada pengajarnya atau syaikhnya, dan yang semisalnya.</li>
<li>Kecintaan (kesenangan) manusia kepada kebutuhan sehari-hari yang akan membahayakan dirinya kalau tidak dipenuhi, seperti kesenangannya kepada makanan, minuman, nikah, pakaian, persaudaraan serta persahabatan dan yang semisalnya.
Cinta-cinta yang demikian termasuk dalam kategori cinta yang manusiawi yang diperbolehkan. Jika kecintaanya tersebut membantunya untuk mencintai dan mentaati Allah maka kecintaan tersebut termasuk ketaatan kepada Allah, demikian pula sebaliknya.</li>
</ol></li>
</ol>

<p><strong>Keutamaan Mencintai Allah</strong></p>

<ol>
<li>Merupakan Pokok dan inti tauhid.<br />
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa&#8217;dy, &#8220;Pokok tauhid dan inti-sarinya ialah ikhlas dan cinta kepada Allah semata. Dan itu merupakan pokok dalam peng- ilah-an dan penyembahan bahkan merupakan hakikat ibadah yang tidak akan sempurna tauhid seseorang kecuali dengan menyempurnakan kecintaan kepada Rabb-nya dan menye-rahkan seluruh unsur-unsur kecintaan kepada-Nya sehingga ia berhukum hanya kepada Allah dengan menjadikan kecintaan kepada hamba mengikuti kecintaan kepada Allah yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman. (Al-Qaulus Sadid,hal 110)</li>
<li>Merupakan kebutuhan yang sangat besar melebihi makan, minum, nikah dan sebagainya.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata: &#8220;Didalam hati manusia ada rasa cinta terhadap sesuatu yang ia sembah dan ia ibadahi ,ini merupakan tonggak untuk tegak dan kokohnya hati seseorang serta baiknya jiwa mereka. Sebagaimana pula mereka juga memiliki rasa cinta terhadap apa yang ia makan, minum, menikah dan lain-lain yang dengan semua ini kehidupan menjadi baik dan lengkap.Dan kebutuhan manusia kepada penuhanan lebih besar daripada kebutuhan akan makan, karena jika manusia tidak makan maka hanya akan merusak jasmaninya, tetapi jika tidak mentuhankan sesuatu maka akan merusak jiwa/ruhnya. (Jami&#8217; Ar-Rasail Ibnu Taymiyah 2/230)</li>
<li>Sebagai hiburan ketika tertimpa musibah.<br />
Berkata Ibn Qayyim, &#8220;Sesungguh-nya orang yang mencintai sesuatu akan mendapatkan lezatnya cinta manakala yang ia cintai itu bisa membuat lupa dari musibah yang menimpanya. Ia tidak merasa bahwa itu semua adalah musibah, walau kebanyakan orang merasakannya sebagai musibah. Bahkan semakin menguatlah kecintaan itu sehingga ia semakin menikmati dan meresapi musibah yang ditimpakan oleh Dzat yang ia cintai. (Madarijus-Salikin 3/38).</li>
<li>Menghalangi dari perbuatan maksiat.<br />
Berkata Ibnu Qayyim (ketika menjelaskan tentang cinta kepada Allah): &#8220;Bahwa ia merupakan sebab yang paling kuat untuk bisa bersabar sehingga tidak menyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya. Karena sesungguhnya seseorang pasti akan mentaati sesuatu yang dicintainya; dan setiap kali bertambah kekuatan cintanya maka itu berkonsekuensi lebih kuat untuk taat kepada-Nya, tidak me-nyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya.
Menyelisihi perintah Allah dan bermaksiat kepada-Nya hanyalah bersumber dari hati yang lemah rasa cintanya kepada Allah.Dan ada perbeda-an antara orang yang tidak bermaksiat karena takut kepada tuannya dengan yang tidak bermaksiat karena mencintainya.
Sampai pada ucapan beliau, &#8220;Maka seorang yang tulus dalam cintanya, ia akan merasa diawasi oleh yang dicintainya yang selalu menyertai hati dan raganya.Dan diantara tanda cinta yang tulus ialah ia merasa terus-menerus kehadiran kekasihnya yang mengawasi perbuatannya. (Thariqul Hijratain, hal 449-450)</li>
<li>Cinta kepada Allah akan menghilangkan perasaan was-was.<br />
Berkata Ibnu Qayyim, &#8220;Antara cinta dan perasaan was-was terdapat perbe-daan dan pertentangan yang besar sebagaimana perbedaan antara ingat dan lalai, maka cinta yang menghujam di hati akan menghilangkan keragu-raguan terhadap yang dicintainya.
Dan orang yang tulus cintanya dia akan terbebas dari perasaan was-was karena hatinya tersibukkan dengan kehadiran Dzat yang dicintainya tersebut. Dan tidaklah muncul perasaan was-was kecuali terhadap orang yang lalai dan berpaling dari dzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , dan tidaklah mungkin cinta kepada Allah bersatu dengan sikap was-was. (Madarijus-Salikin 3/38)</li>
<li>Merupakan kesempurnaan nikmat dan puncak kesenangan.<br />
Berkata Ibn Qayyim, &#8220;Adapun mencintai Rabb Subhannahu wa Ta&#8217;ala maka keadaannya tidaklah sama dengan keadaan mencin-tai selain-Nya karena tidak ada yang paling dicintai hati selain Pencipta dan Pengaturnya; Dialah sesembahannya yang diibadahi, Walinya, Rabb-nya, Pengaturnya, Pemberi rizkinya, yang mematikan dan menghidupkannya. Maka dengan mencintai Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala akan menenteramkan hati, menghidupkan ruh, kebaikan bagi jiwa menguatkan hati dan menyinari akal dan menyenangkan pandangan, dan menjadi kayalah batin. Maka tidak ada yang lebih nikmat dan lebih segalanya bagi hati yang bersih, bagi ruh yang baik dan bagi akal yang suci daripada mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Kalau hati sudah merasakan manisnya cinta kepada Allah maka hal itu tidak akan terkalahkan dengan mencintai dan menyenangi selain-Nya. Dan setiap kali bertambah kecintaannya maka akan bertambah pula pengham-baan, ketundukan dan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dan membebaskan diri dari penghambaan, ketundukan ketaatan kepada selain-Nya.&#8221;(Ighatsatul-Lahfan, hal 567)</li>
</ol>

<p><strong>Orang-orang yang dicintai Allah</strong></p>

<p>Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala mencintai dan dicintai. Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman di dalam surat Al-Ma&#8217;idah: 54, yang artinya: &#8220;<em>Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah.</em>&#8220;.</p>

<p>Mereka yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala :</p>

<ul>
<li>Attawabun (orang-orang yang bertau-bat), Al-Mutathahhirun (suka bersuci), Al-Muttaqun (bertaqwa), Al-Muhsinun (suka berbuat baik) Shabirun (bersa-bar), Al-Mutawakkilun (bertawakal ke-pada Allah) Al-Muqsithun (berbuat adil).</li>
<li>Orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam satu barisan seakan-akan mereka satu bangunan yang kokoh.</li>
<li>Orang yang berkasih-sayang, lembut kepada orang mukmin.</li>
<li>Orang yang menampakkan izzah/kehormatan diri kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.</li>
<li>Orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah.</li>
<li>Orang yang tidak takut dicela manusia karena beramal dengan sunnah.</li>
<li>Orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah wajib.</li>
</ul>

<p><strong>Sebab-sebab mendapatkan Cinta Allah</strong></p>

<ul>
<li>Membaca Al-Qur&#8217;an dengan memikir-kan dan memahami maknanya.</li>
<li>Berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.</li>
<li>Selalu mengingat Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , baik de-ngan lisan, hati maupun dengan anggota badan dalam setiap keadaan.</li>
<li>Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala daripada dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.</li>
<li>Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.</li>
<li>Melihat kebaikan dan nikmatNya baik yang lahir maupun yang batin.</li>
<li>Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.</li>
<li>Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur&#8217;an , merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.</li>
<li>Duduk dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah dari para ulama dan da&#8217;i, mendengar-kan dan mengambil nasihat mereka serta tidak berbicara kecuali pembica-raan yang baik.</li>
<li>Menjauhi/menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala .</li>
</ul>

<p><em>(Disadur dari kalimat mutanawwi&#8217;ah fi abwab mutafarriqah karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd oleh Abu Muhammad)</em>.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/mencintai-saudara-sebagaimana-mencintai-diri-sendiri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri'>Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/58' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengukur Cinta kepada Allah'>Mengukur Cinta kepada Allah</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/cinta-dan-mencintai-alloh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama adalah Nasihat</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/agama-adalah-nasihat</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/agama-adalah-nasihat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 14:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu &#8216;anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasihat, Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”

[Muslim no. 55]

[dari http://www.facebook.com/topic.php?uid=63402749433&#38;topic=11161 ]



Penjelasan:

Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu &#8216;anh, “<em>Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasihat, Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim</em>”</p>

<p>[Muslim no. 55]</p>

<p>[dari http://www.facebook.com/topic.php?uid=63402749433&amp;topic=11161 ]</p>

<p><span id="more-251"></span></p>

<p><strong>Penjelasan</strong>:</p>

<p>Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahasa arab tentang kata Al Fallaah yang tidak memiliki padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.</p>

<p>Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.
Tentang penafsiran kata nasihat dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lain mengatakan :</p>

<ol>
<li><p>Nasihat untuk Allah<br />
maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun”</p></li>
<li><p>Nasihat untuk kitab-Nya<br />
maksudnya beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada Rasul-Nya, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun, kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkan dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hokum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan menimani Kitabullah</p></li>
<li><p>Nasihat untuk Rasul-Nya<br />
maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun setelah wafat, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati hak-haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmunya dan mengajak manusia pada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.</p></li>
<li><p>Nasihat untuk para pemimpin umat islam<br />
maksudnya menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahu mereka apa yang menjadi hak kaum muslim, tidak melawan mereka dengan senjata, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka (tidak untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya), dan makmum shalat dibelakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.</p></li>
<li><p>Nasihat untuk seluruh kaum muslim<br />
maksudnya memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat kemungkaran dengan sikap santun, ikhlas dan kasih sayang kepada mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi hak miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana dia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan kepada mereka menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam</p></li>
</ol>

<p>Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain. Wallahu a’lam</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/agama-adalah-nasihat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istighfar dan Eksistensi Diri</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-dan-eksistensi-diri</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-dan-eksistensi-diri#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 14:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Notes]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[istighfar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[(ringkasan/tafsir dari artikel Istighfar, Pesan Para Nabi dari Dakwatuna)

Ayat penting: 11:1-4,52,61,90; 3:135; 8:33

Surat Hud adalah surat yang membuat Abu bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah saw beruban. Keterkejutan ini dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, “Surat Hud dan saudara2nya telah membuat rambutku beruban”. Ternyata surat Hud dan surat2 terkait sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-obat-kesedihan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar obat kesedihan'>Istighfar obat kesedihan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-jalan-menuju-kebahagiaan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar jalan menuju kebahagiaan'>Istighfar jalan menuju kebahagiaan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/mukmin-bukan-seorang-pencaci-pemaki-penghina' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mukmin bukan seorang pencaci, pemaki, penghina'>Mukmin bukan seorang pencaci, pemaki, penghina</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(ringkasan/tafsir dari artikel <a href="http://www.dakwatuna.com/2007/istighfar-pesan-para-nabi/">Istighfar, Pesan Para Nabi</a> dari <a href="http://www.dakwatuna.com/">Dakwatuna</a>)</p>

<p>Ayat penting: 11:1-4,52,61,90; 3:135; 8:33</p>

<p>Surat Hud adalah surat yang membuat Abu bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah saw beruban. Keterkejutan ini dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, “<em>Surat Hud dan saudara2nya telah membuat rambutku beruban</em>”. Ternyata surat Hud dan surat2 terkait sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui lisan para nabiyullah Hud AS, Sholih AS dan Syu’aib AS.</p>

<p>Secara aplikatif, kebiasaan beristighfar sudah dicotohkan oleh Rasulullah saw. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim). Pelajaran yang diambil dari perilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali.</p>

<ol>
<li><p>Istighfar merupakan <strong>bukti penghambaan seorang manusia terhadap Penciptanya</strong>. Sebab hanya seorang hamba yang akan meminta ampun kepada penguasa dirinya. Begitu juga sebaliknya, Iblis, sebagai contoh makhluk yang sesat dan menyesatkan, saat di usir oleh Allah, bukannya istighfar malah menantang Allah. Kebiasaan beristighfar juga mereflesikan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan Ke-Maha Pengampunan Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam</p></li>
<li><p>Istighfar merupakan <strong>cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa</strong>. “<em>Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui</em>”. (Ali Imran:135)</p></li>
<li><p>Istighfar merupakan <strong>sumber kekuatan umat </strong>(Hud:52)</p></li>
<li><p>Istighfar dapat <strong>menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT</strong> (Al-Anfaal:33)</p></li>
<li><p>Istighfar akan <strong>memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang</strong>. (11:52) “<em>Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka</em>”. (Ibnu Majah)</p></li>
</ol>

<p>Wallahu&#8217;alam</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-obat-kesedihan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar obat kesedihan'>Istighfar obat kesedihan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-jalan-menuju-kebahagiaan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar jalan menuju kebahagiaan'>Istighfar jalan menuju kebahagiaan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/mukmin-bukan-seorang-pencaci-pemaki-penghina' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mukmin bukan seorang pencaci, pemaki, penghina'>Mukmin bukan seorang pencaci, pemaki, penghina</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-dan-eksistensi-diri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Assyura/Muharram</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 06:19:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[TBC]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Intisari:


Puasa yg paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram
Dianjurkan berpuasa pada tanggal 10, dan 9 atau 11 Muharram




&#8220;Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.&#8221; (4) [Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Thabrani, dari Jundub, seperti terdapat dalam Sahih Jami' Shagir, no. 1127. ] *1

Karena itu, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/targhib-puasa-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Targhib Puasa Ramadhan'>Targhib Puasa Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/sifat-puasa-nabi-saw' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sifat Puasa Nabi SAW'>Sifat Puasa Nabi SAW</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/memaknai-hari-iedul-fitri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Memaknai Hari Iedul Fitri'>Memaknai Hari Iedul Fitri</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Intisari:</p>

<ul>
<li>Puasa yg paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram</li>
<li>Dianjurkan berpuasa pada tanggal 10, dan 9 atau 11 Muharram</li>
</ul>

<p><span id="more-192"></span></p>

<blockquote>&#8220;Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.&#8221; (4) [Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Thabrani, dari Jundub, seperti terdapat dalam Sahih Jami' Shagir, no. 1127. ] *1</blockquote>

<p>Karena itu, berpuasalah pada bulan Muharram. Tanggalnya?</p>

<blockquote>Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Fathul Bari, 4/245. Imam Syafi’i juga menyebutkannya di dalam kitab Al-Umm). *2</blockquote>

<p>Jadi berpuasalah tanggal 10 Muharram, dan tanggal 9 atau 11 Muharram.</p>

<p>Sementara keutamaan dari puasa Muharram seperti dijelaskan dalam hadits2 berikut:</p>

<blockquote>“Tatkala Nabi Saw datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR Al Bukhari) *3</blockquote>

<blockquote>“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. HR Al Bukhari No 1897</blockquote>

<blockquote>“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”. [Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata,]</blockquote>

<blockquote>“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. [Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Ra]</blockquote>

<hr />

<p>Maraji&#8217;:</p>

<ol>
<li>http://media.isnet.org/islam/Etc/IbadahUtama.html</li>
<li>http://sunniy.wordpress.com/2008/01/05/puasa-di-bulan-muharram/</li>
<li>http://wahonot.wordpress.com/2008/01/04/sunnahnya-puasa-asyura-di-bulan-muharam/</li>
</ol>

<p>keyword: assyura, asysyura, asyura, muharram, muharam, 10 muharram</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/targhib-puasa-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Targhib Puasa Ramadhan'>Targhib Puasa Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/sifat-puasa-nabi-saw' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sifat Puasa Nabi SAW'>Sifat Puasa Nabi SAW</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/memaknai-hari-iedul-fitri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Memaknai Hari Iedul Fitri'>Memaknai Hari Iedul Fitri</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat Puasa Nabi SAW</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/sifat-puasa-nabi-saw</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/sifat-puasa-nabi-saw#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 09:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Saduran dari Azhari.
Rasulullah saw bersabda, au kamaa qaal:
&#8220;Man shaama Ramadhana, iimanan wahtisaban, ghufiralahu ma taqaddama min dzanbih&#8221;
&#8220;Barangsiapa berpuasa Ramadhan, dengan iman dan ihstisab, diampuni kesalahannya yang terdahulu&#8221;. (HR.Bukhari)

iman: yakin
ihtisab: introspeksi sungguh-sungguh dengan pengharapan yang tulus



Sifat Puasa Nabi SAW

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram' rel='bookmark' title='Permanent Link: Puasa Assyura/Muharram'>Puasa Assyura/Muharram</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/adab-puasa' rel='bookmark' title='Permanent Link: Adab Puasa'>Adab Puasa</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/targhib-puasa-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Targhib Puasa Ramadhan'>Targhib Puasa Ramadhan</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saduran dari Azhari.
Rasulullah saw bersabda, au kamaa qaal:
&#8220;Man shaama Ramadhana, iimanan wahtisaban, ghufiralahu ma taqaddama min dzanbih&#8221;
&#8220;Barangsiapa berpuasa Ramadhan, dengan iman dan ihstisab, diampuni kesalahannya yang terdahulu&#8221;. (HR.Bukhari)</p>

<p>iman: yakin
ihtisab: introspeksi sungguh-sungguh dengan pengharapan yang tulus</p>

<hr />

<p>Sifat Puasa Nabi SAW</p>

<p>بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ، أما بعد:
Ini merupakan ringkasan sifat Puasa Nabi saw &#8211; dimana didalammnya meliputi kewajiban, adab2, do&#8217;a2, hukum2 berkaitan dengan puasa, jenis manusia yang berpuasa, perkara yang membatalkan puasa, dan faedah2 lain. Kita memohon petunjuk Allah agar orang2 Islam mengamalkan sunnah Nabi saw pada semua usia, dari yang kecil hingga yang dewasa/tua. Allah jua yang memberikan petunjuk.</p>

<p><span id="more-101"></span></p>

<p>Ta&#8217;rif Puasa:
merupakan ibadat kepada Allah dengan meninggalkan perkara2 yang dilarang dari terbit fajar hingga terbenam matahari.</p>

<p>Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Nabi saw bersabda :
بني الإسلام على خمس: شهادة أن لإله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت الحرام
&#8220;Islam dibangun atas 5 perkara : mengucapkan syahadah, mendirikan solat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan Haji ke Baitullaah al-Haram&#8221; [mutafaq 'alaih].</p>

<p>Orang2 yang berpuasa :-</p>

<ul>
<li>Puasa wajib bagi semua orang Islam yang Baligh dan berakal dan bermukim.</li>
<li>Orang kafir tidak wajib puasa, dan mereka tidak perlu qadha&#8217; puasa jika mereka memeluk Islam.</li>
<li>Kanak-kanak yang belum baligh tidak wajib puasa, akan tetapi disuruh melakukannya agar merekaa menjadi biasa dengan berpuasa.</li>
<li>Orang sakit yang mempunyai penyakit (emergency) dan sedang menunggu kesembuhan boleh berbuka puasa dan setelah sembuh harus mengqadha&#8217;nya kembali.</li>
<li>Orang yang tak berkemampuan (&#8216;aajuz) berpuasa atas sebab kekal (permanent) sebagaimana orang tua atau orang sakit yang tiada harapan sembuh &#8211; setiap hari yang tidak berpuasa wajib memberi fidyah kepada orang miskin.</li>
<li>Wanita yang hamil dan menyusui jika menghadapi kesukaran berpuasa, maka dia dibolehkan berbuka dan boleh menqadha&#8217; puasanya apabila datang keringanan.</li>
<li>Wanita datang haidh dan nifas tidak boleh berpuasa, dan mesti mengqadha&#8217; apa yang tertinggal.</li>
<li>Orang yang bermusafir diberi pilihan berpuasa atau berbuka, dan wajib mengqadha&#8217; sekiranya berbuka didalam safar, sama saja safar yang &#8216;emergency&#8217;, atau safar seperti Umrah, atau sentiasa dalam perjalanan seperti supir kereta, mereka boleh berbuka selama mereka tidak berada dinegara mereka (dalam keadaan safar, tidak mukim).</li>
</ul>

<p>Hukum-hukum berkaitan dengan ibadah puasa
1-Niat :
Wajib berniat untuk puasa. Kewajibannya sebelum terbit fajar, Nabi saw bersabda :
من لم يُجمِع الصيام قبل الفجر فلا صيام له
&#8220;Barangsiapa yang tidak menetapkan (berniat) untuk berpuasa sebelum fajar, maka tiadalah puasa baginya&#8221;
[Shahih Abi Daud]</p>

<p>Sabda Nabi saw didalam hadith lain :-
من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له
&#8220;Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malamnya maka tiadalah puasa baginya&#8221; [Sahih al-Nasaa'i].</p>

<p>Niat tempatnya dihati, melafazkannya tidaklah datang dari nabi saw, dan tidak ada di antara sahabat Nabi ra. yg melakukannya.
[Tambahan : Umumnya, masyarakat Islam masih bergantung kepada Lafaz Niat : "Nawaitu Sauma ghadin..." dan bukannya azam (ketetapan hati yang kuat) untuk melakukan puasa pada keesokkan harinya. Yang menjadi rukun adalah niat yang berbentuk azam]</p>

<p>2- Waktu berpuasa :</p>

<p>Firman Allah swt :
&#8220;Makan dan minumlah hingga jelas kepada kamu benang (garis) putih dari benang (garis) hitam, iaitu fajar&#8221; [surah al-Baqarah : 187]</p>

<ul>
<li>Fajar Kazib &#8211; padanya tidak dibenarkan solat fajar, tidak diharamkan makan dan minum. Ia merupakan cahaya putih terang yang berbentuk segi empat (komentar: seperti tiang cahaya putih yang menegak selama 20min sebelum fajar sebenar/solat fajar).</li>
<li>Fajar Saadiq &#8211; padanya diharamkan makan bagi yang berpuasa, dibenarkan solat fajar, kelihatan segi empat merah diatas puncak gunung.</li>
</ul>

<p>Apabila malam tiba dan matahari terbenam, maka boleh berbuka puasa. Nabi saw bersabda :
&#8220;Apabila datangnya malam dari sini dan berlalunya siang dari sini, dan terbenamnya matahari, maka berbukalah&#8221;
[Hadith Mutafaq a'alaih].</p>

<p>3-Sahur</p>

<p>Sabda Nabi saw :
&#8220;Perbedaan puasa diantara puasa kita dan puasa ahli kitab ialah makan sahur&#8221; [Hadith Riwayat Muslim].
Bersabda Nabi saw didalam hadith yang lain :
البركة في ثلاثة: الجماعة والثريد والسحور
&#8220;Barakah ada didalam 3 perkara : Jamaah, bubur dan sahur&#8221;
[Hadith Riwayat al-Tabarani didalam al-Kabir].</p>

<p>Sahur merupakan berkat yang nyata, seharusnya tidak ditinggalkan kerana patuh kepada Sunnah. Sahur memberi kekuatan bagi yang berpuasa. Ia merupakan makanan yang diberkati sebagaimana Nabi saw menyebut namanya : &#8220;Anda telah sampai kepada makanan yang diberkati&#8221; [Sahih Abu Daud].</p>

<p>Sabda Nabi saw lagi :
السحور أكلة بركة فلا تدعوه ولو أن
يصلون على المتسحرين يجرع أحدكم جرعة من ماء، فإن الله وملائكته
&#8220;Makan Sahur adalah berkah, maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun salah seorang dari kamu hanya meminum seteguk air, kerana sesungguhnya Malaikat berselawat keatas orang2 yang bersahur&#8221;
[Hadith Hasan riwayat Imam Ahmad].</p>

<p>Sabda Nabi saw lagi :
نعم سحورالمؤمن التمور
&#8220;Nikmat Sahur orang beriman adalah kurma&#8221; [Sahih Riwayat Abi Daud].</p>

<p>Dan telah menjadi petunjuk Nabi saw agar melewatkan sahur sebaik-baiknya sebelum subuh/fajar.
[Tambahan : waktu Imsak yang diamalkan seperti 10 menit sebelum masuk waktu fajar tidaklah diamalkan oleh para salaf. Ibn Kathir meriwayatkan bahawa kebanyakan ulama Salaf bertoleransi didalam bab makan sahur hingga hampir fajar. Begitu juga dengan mereka yang sedang meneguk air ketika azan berkumandang, adalah sunnah baginya menyelesaikan hajatnya dan bukan memuntahkan air yang sudah di mulut.</p>

<p>Sabda Nabi saw :
(إذا سمع أحدكم النداء، والإناء على يده، فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه)
"Apabila salah seorang dari kamu mendengar azan sementara piring sudah ditangan, janganlah piring itu diletakkan hingga ia menunaikan hajatnya" [Hadith Riwayat al-Hakim]]</p>

<p>4-Apa yang orang berpuasa harus tinggalkan selain makan dan minum :</p>

<ul>
<li><p>Menipu/berdusta : Nabi saw bersabda :
&#8220;Barangsiapa yang tidak meninggalkan menipu dan beramal dengannya, maka tidaklah Allah swt memerlukan dia meninggalkan makan dan minumnya&#8221; [Hadith Riwayat al-Bukhari].</p></li>
<li><p>Percakapan yang keji, cabul dan kotor. Nabi saw bersabda :
&#8220;Bukanlah puasa itu dari makan dan minum, namun puasa adalah [menahan diri] dari bercakap kosong dan cabul, maka jika seseorang memaki atau menyakitimu, maka katakan : sesungguh aku sedang berpuasa&#8221; [Hadith Sahih Ibn Khuzaimah].</p></li>
</ul>

<p>5- Apa yang dibenarkan didalam berpuasa :</p>

<ul>
<li><p>Orang berpuasa yang masih berjunub : dari &#8216;Aisyah ra :
كان يدركه الفجر وهو جنب من
أهله ثم يغتسل ويصوم
&#8220;Telah masuk fajar dan baginda masih berjunub dengan isterinya, kemudian dia mandi dan berpuasa&#8221; [Hadith Muttafaq a'alaih].</p></li>
<li><p>Orang berpuasa yang bersiwak : Nabi saw bersabda :
&#8220;Jika tidak menyusahkan umatku, nescaya aku memerintahkan mereka bersiwak setiap kali berwudhu&#8217;&#8221; [Hadith Muttafaq a'alaih].
Nabi saw tidak mengkhusukan orang berpuasa dengan yang lain, dan ini juga satu isyarat bahawa orang yang berpuasa boleh bersiwak pada setiap kali wudhu&#8217; dan setiap kali solat, pada setiap waktu.</p></li>
<li><p>berkumur2 dan memasukkan air melalui hidung :
Nabi saw berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung dan ketika itu dia berpuasa, akan tetapi dia tidak melakukannya secara berlebihan.
Sabda Nabi saw :
&#8220;Memasukkan air kedalam hidung (dengan berlebih) kecuali ia sedang berpuasa&#8221;
[hadith Shahih Abu Daud]</p></li>
<li><p>Orang berpuasa bercumbu dan bercium :
Dari &#8216;Aisyah ra. berkata :
&#8220;Rasulullah saw pernah mencium dan dia sedang berpuasa, dia pernah bercumbu dan dia berpuasa, akan tetapi bagindalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya dari kamu sekalian&#8221; [Muttafaq 'alaih].</p></li>
</ul>

<p>Baginda tidak menyukai dilakukan keatas orang muda, kecuali yang tua. Baginda bersabda:
&#8220;Sesungguhnya orang tua mampu menahan diri mereka sendiri&#8221;
[Hadith Sahih Riwayat Ahmad].</p>

<ul>
<li><p>Pemeriksaan dan mengambil darah &#8211; jarum tersebut tidak berfungsi sbg makanan, ia tidak membatalkan puasa, kerana ia bukanlah makanan dan tidak sampai kepada jantung.</p></li>
<li><p>Menambal gigi (uprooting) &#8211; tidak membatalkan puasa</p></li>
<li><p>Merasai makanan : batasnya tidak sampai ke tenggorokan. Begitu juga dengan penggunaan obat gigi. Dari Abbas ra. berkata :
&#8220;Tidak mengapa dia merasai (taste) cuka atau apa saja, selagi ia tidak memasuki kerongkongan, dan dia masih berpuasa&#8221; [Riwayat al-Bukhari[</p></li>
<li><p>Memakai celak dan obat tetes mata (drops) yang memasuki mata - perkara ini tidak membatalkan puasa. Berkata Imam al-Bukhari didalam sahihnya :
"Anas, Hasan dan Ibrahim tidak melihat dengan bercelak ada masalah yang mencacatkan orang berpuasa"</p></li>
</ul>

<p>[Tambahan: Perkara-perkara yang dianggap oleh banyak orang bisa membatalkan puasa seperti mengorek hidung, korek telinga, memakai obat tetes mata, ambil darah, sembelit dan kesemuanya bukanlah merupakan perkara-perkara yang membatalkan puasa.]</p>

<p>6- Ketika berbuka Puasa :
* Menyegerakan berbuka puasa merupakan sunnah Nabi saw dan juga larangan kaum Yahudi dan Nasrani, mereka melewat2kannya, mereka melambat-lambatkan waktunya. Nabi saw bersabda :
لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر
&#8220;Sentiasa manusia itu berada didalam kebaikan selama dia mendahulukan berbuka puasa&#8221; [Hadith Muttafaq 'alaih].</p>

<ul>
<li>Berbuka sebelum Solat Maghrib : dari Anas ra. berkata :
كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم-
يفطر قبل أن يصلي
&#8220;Rasulullah saw berbuka sebelum bersolat&#8217;
[Hadith hasan riwayat Abu Daud].</li>
</ul>

<p>Apa yang baginda makan sewaktu berbuka?
Dari Anas bin Malik ra. berkata :
&#8220;Nabi saw berbuka dengan Rutbaat (kurma matang) sebelum solat, dan jika tidak ada kurma matang maka beberapa biji kurma biasa, dan jika tiada kurma biasa, cukuplah dengan beberapa teguk air&#8221; [Hadith Sahih Abi Daud].</p>

<ul>
<li>Apa yang baginda ucapkan ketika berpuasa? Nabi saw berkata :
للصائم عند فطره دعوة لا ترد
&#8220;bagi orang yang berbuka, do&#8217;anya tidak akan tertolak&#8221; [Hadith Sahih Ibn Majah].</li>
</ul>

<p>Nabi saw semasa berbuka puasa berdo&#8217;a :
ذهب الظمأ وابتلت العروق، وثبت الأجر
إن شاء الله
&#8220;Telah pergi kehausan dan telah basah urat-urat, dan pastilah ganjaran (pahala).
Dengan kehendak Allah&#8221; [Hadith Sahih Abi Daud]</p>

<p>[Tambahan: Adalah tidak sunnah perbuatan seseorang yang melewatkan berbuka disebabkan azan maghrib masih berkumandang.
Do'a berbuka puasa yang masyhur dikalangan kita Sadاللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت)- Allahumma laka Sumtu ....." sebenarnya status hadith tersebut adalah dhaif.
Hadith Sahih untuk menggantikan do'a ini adalah seperti diatas dan transliterasinya adalah:
"Dhahaba al-zama’ wa abtalat al-‘urooq wa thabata al-ajr insha Allaah". ]</p>

<p>7 – Perkara-perkara yang membatalkan puasa</p>

<ul>
<li><p>Makan dan minum dengan sengaja. Jika dia terlupa atau dipaksa maka tidakl mengapa dengan kehendak Allah. Nabi saw bersabda :
إذا نسي فأكل وشرب فليتم صومه ،
فإنما أطعمه الله وسقاه
&#8220;Jika seseorang terlupa lalu di makan dan minum air, maka sempurnakanlah puasanya, kerana sesungguhnya Allah lah yang memberi dia makan dan minum&#8221; [Hadith Muttafaq 'alaih].</p></li>
<li><p>Muntah dengan sengaja: iaitu mengeluarkan apa yang ada didalam perut melalui mulut. Sabda Nabi saw :
من ذرعه القيء فليس عليه قضاء، ومن
استقاء فليقض
&#8220;Barangsiapa yang muntah (tidak sengaja, sedangkan dia sedang berpuasa) tidak ada qadha&#8217; baginya, dan barangsiapa yang sengaja maka baginya qadha&#8221;[Hadith Sahih Abu Daud].
Maka jika muntah tidak sengaja, maka ia tidak membatalkan puasa.</p></li>
<li><p>Berjima&#8217;: jika dilakukan pada siang hari Ramadhan dari orang yang berpuasa wajib, maka keatasnya qadha&#8217; kafaarah, iaitu membebaskan seorang hamba, dan jika tidak menjumpai hendaklah berpuasa 2 bulan berturut2, dan jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin.</p></li>
<li><p>Injeksi makanan : iaitu menyalurkan bahan makanan melalui usus atau darah dengan tujuan memberi makanan kepada pasien, dan yang semacamnya membatalkan puasa.</p></li>
<li><p>Haidh dan Nifas : keluar darah dari wanita sebahagian hari siang samaada menjumpainya awal atau akhir, dia harus berbuka dan mengqadha&#8217;nya.</p></li>
<li><p>Mengeluarkan mani : melakukan onani (masturbation) atau bercumbu atau bercium, atau apapun perbuatan yang sejenis. Jika keluarnya mani karena mimpi, maka ia tidak membatalkan puasa kerana hal itu bukanlah atas kehendak mereka yang berpuasa.</p></li>
<li><p>Keluarnya darah yang cukup banyak: contohnya berbekam</p></li>
</ul>

<p>8-Qadha&#8217; Puasa</p>

<p>Adalah mustahab (digalakkan) menyegerakan diri untuk qadha&#8217; puasa dan tidak disukai mengundur-undurkannya, tidak wajib berturut-turut didalam Qadha&#8217;. Orang yang lemah dan tidak berkemampuan puasa tidak wajib qadha, melainkan wajib memberi makan orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan. Barangsiapa yang sedang berpuasa lalu meninggal, maka wajib puasa keatasnya. Barangsiapa yang meninggal sementara dia berhutang puasa wajib maka harus digantikan oleh walinya/ahli warisnya</p>

<p>Sabda Nabi saw :
من مات وعليه صوم صام وليه عنه وليه
&#8220;Barangsiapa yang meninggal sedangkan ia masih mempunyai hutang puasa wajib, maka hendaknya walinya berpuasa untuknya&#8221; [Hadith Muttafqa 'Alaih]</p>

<p>9-Berpuasa tetapi meninggalkan solat :</p>

<p>Barangsiapa yang meninggalkan solat, maka dia telah meninggalkan satu rukun penting didalam rukun-rukun Islam selepas Tauhid. Puasa tersebut tidak bermanfaat apaun selama dia dia meninggalkan solat. kerana sesungguhnya solat itu tiang agama dan ia bergantung kepadanya. Meninggalkan solat telah dihukumkan kafir diatasnya. Orang kafir tidak diterima amalannya sebagaimana hadith Nabi saw:
&#8220;Sesuatu yang menjadi pembatas diantara kita dan mereka (orang kafir) adalah Solat, barangsiapa yang meninggalkan solat maka dia telah kafir&#8221; [Hadith Sahih Riwayat Imam Ahmad]</p>

<p>10-Solat Malam yang merupakan pilihan (Tarawih ) :</p>

<p>Rasulullah saw telah melakukan Qiam Ramadhan (Solat Tarawih) secara berjamaah, kemudian baginda telah meninggalkannya kerana takut umatnya akan mewajibkannya, maka iapapun tidaklah boleh mewajibkan solat ini. Bilangan rakaat ialah 8 (delapan) rakaat tanpa witir sebagaimana hadith dari A&#8217;isyah ra, :
&#8220;Nabi saw tidak menambah pada malam Ramadhan dan selainnya sebanyak 11 rakaat&#8221;
[Hadith Muttafaq 'alaih]</p>

<p>Umar bin al-Khattab ra menghidupkan sunnah Solat berjamaah 11 rakaat ini, dan beliau bersolat pada zamannya sebanyak 23 rakaat, dan mereka bersolat selepasnya sebanyak 39 rakaat. Amalan 23 rakaat dilakukan sebagaimana solat di Masjidil Haram dan Masjid al-Nabawi, ini merupakan pandangan 3 Imam dan yang selainnya.</p>

<p>Apa yang ada pada kebanyakan umat Islam sekarang adalah Solat Tarawih yang dilakukan secara cepat bacaannya, termasuk ruku&#8217; dan sujudnya, dan ini telah bertentangan dengan kaifiat solat, iaitu kaifiat khyusuk, dan dalam keadaan-keadaan yang lain bisa menyebabkan solat tersebut batal bila tidak memenuhi rukun tuma’ninah. Padahal kualitas (panjangnya) bacaan didahulukan dibanding banyaknya bacaan.</p>

<p>11-Zakat Fitrah</p>

<p>Zakat Fitrah merupakan amalan fardu, Nabi saw bersabda :
فرض رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; زكاة الفطر من رمضان على الناس
&#8220;Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fitrah pada bulan Ramadhan keatas manusia&#8221;
[Hadith Muttafaq 'alaih]</p>

<p>Diwajibkan Zakat Fitrah keatas anak-anak dan orang dewasa, lelaki dan perempuan, manusia merdeka dan hamba sahaya dari orang-orang Islam, dan kadarnya diukur menurut negara tempat tinggal masing-masing, yang afdalnya tempat tinggal siang dan malam mereka bersama keluarga.
Yang paling afdal diberikan kepada golongan miskin.</p>

<h2>Waktu mengeluarkannya : Pada Hari Raya (Eid) sebelum solat, dan boleh juga sehari atau 2 hari sebelumnya, dan tidak boleh menundanya sampai lewat hari Eid.</h2>

<p>Diambil dari Sifat Shiyam Rasulullah SAW
Oleh Syekh Abdullah bin Abdul Rahman bin Jibrin
Terjemahan bahsa Melayu oleh Ustadz Khairul Amin (di http://al-ahkam.net.)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram' rel='bookmark' title='Permanent Link: Puasa Assyura/Muharram'>Puasa Assyura/Muharram</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/adab-puasa' rel='bookmark' title='Permanent Link: Adab Puasa'>Adab Puasa</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/targhib-puasa-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Targhib Puasa Ramadhan'>Targhib Puasa Ramadhan</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/sifat-puasa-nabi-saw/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang-orang yang didoakan oleh para malaikat</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/orang-orang-yang-didoakan-oleh-para-malaikat</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/orang-orang-yang-didoakan-oleh-para-malaikat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 08:53:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[(tulisan ini didapat dari milis muslim12@)


Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.  
Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.  
Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.  
Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).  
Para malaikat mengucapkan Amin [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/pahala-orang-yang-shaum-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahala orang yang shaum Ramadhan'>Pahala orang yang shaum Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/orang-yang-bersyukur-dan-sabar-menurut-allah-swt' rel='bookmark' title='Permanent Link: Orang yang bersyukur dan sabar menurut Allah SWT'>Orang yang bersyukur dan sabar menurut Allah SWT</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/3-orang-yang-celaka' rel='bookmark' title='Permanent Link: 3 orang yang celaka'>3 orang yang celaka</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(tulisan ini didapat dari milis muslim12@)</p>

<ol>
<li>Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.  </li>
<li>Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.  </li>
<li>Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.  </li>
<li>Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).  </li>
<li>Para malaikat mengucapkan <code>Amin</code> ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.  </li>
<li>Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.  </li>
<li>Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan &#8216;ashar secara berjama&#8217;ah.  </li>
<li>Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.  </li>
<li>Orang – orang yang berinfak.  </li>
<li>Orang yang sedang makan sahur.  </li>
<li>Orang yang sedang menjenguk orang sakit.  </li>
<li>Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.  </li>
</ol>

<p>Selengkapnya klik <span id="more-100"></span></p>

<ol>
<li><p>Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci,
maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan
bangun hingga malaikat berdoa &#8216;<code>Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan
karena tidur dalam keadaan suci</code>&#8216;&#8221;.<br />
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)</p></li>
<li><p>Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Tidaklah salah seorang diantara kalian yang
duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali
para malaikat akan mendoakannya &#8216;<code>Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah
sayangilah ia</code>&#8216;&#8221;<br />
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)</p></li>
<li><p>Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat
berjamaah.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan&#8221;<br />
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra&#8217; bin `Azib ra., hadits
ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)</p></li>
<li><p>Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak
membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu
bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf&#8221;<br />
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al
Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh
Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)</p></li>
<li><p>Para malaikat mengucapkan <code>Amin</code> ketika seorang Imam selesai
membaca Al Fatihah.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Jika seorang Imam membaca &#8216;<code>ghairil
maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn</code>&#8216;, maka ucapkanlah oleh kalian
<code>aamiin</code>, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan
malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu&#8221;.<br />
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)</p></li>
<li><p>Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Para malaikat akan selalu bershalawat kepada
salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana
ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat)
berkata, &#8216;<code>Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia</code>&#8216;&#8221;<br />
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh
Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)</p></li>
<li><p>Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan &#8216;ashar secara
berjama&#8217;ah.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Para malaikat berkumpul pada saat shalat
shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari
(yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan
malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi
pada waktu shalat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari
(hingga shalat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang
bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada
mereka, &#8216;Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?&#8217;, mereka menjawab,
&#8216;Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami
tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka
ampunilah mereka pada hari kiamat&#8217;&#8221;<br />
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140,
hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)</p></li>
<li><p>Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang
didoakan.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Doa seorang muslim untuk saudaranya yang
dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang
akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi
wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah
kebaikan, maka malaikat tersebut berkata &#8216;<code>aamiin dan engkaupun
mendapatkan apa yang ia dapatkan</code>&#8216;&#8221;<br />
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda&#8217; ra., Shahih Muslim
no. 2733)</p></li>
<li><p>Orang – orang yang berinfak.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Tidak satu hari pun dimana pagi harinya
seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah
satu diantara keduanya berkata, &#8216;<code>Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang
yang berinfak</code>&#8216;. Dan lainnya berkata, &#8216;<code>Ya Allah, hancurkanlah harta
orang yang pelit</code>&#8216;&#8221;<br />
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)</p></li>
<li><p>Orang yang sedang makan sahur.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat kepada orang – orang yang sedang makan sahur&#8221;<br />
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah
bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)</p></li>
<li><p>Orang yang sedang menjenguk orang sakit.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya
kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan
bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di
waktu malam kapan saja hingga shubuh&#8221;<br />
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no.
754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, &#8220;Sanadnya shahih&#8221;)</p></li>
<li><p>Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.<br />
Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Keutamaan seorang alim atas seorang ahli
ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara
kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di
dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang
yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain&#8221;<br />
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra.,
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)</p></li>
</ol>

<p>Sumber Tulisan Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang – orang yang
Didoakan Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama,
Februari 2005)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/pahala-orang-yang-shaum-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahala orang yang shaum Ramadhan'>Pahala orang yang shaum Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/orang-yang-bersyukur-dan-sabar-menurut-allah-swt' rel='bookmark' title='Permanent Link: Orang yang bersyukur dan sabar menurut Allah SWT'>Orang yang bersyukur dan sabar menurut Allah SWT</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/3-orang-yang-celaka' rel='bookmark' title='Permanent Link: 3 orang yang celaka'>3 orang yang celaka</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/orang-orang-yang-didoakan-oleh-para-malaikat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda Husnul Khatimah</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-husnul-khatimah</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-husnul-khatimah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 05:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[TBC]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini diambil dari situs Assyariah dengan diberikan sedikit perbaikan dalam tampilan dll agar mudah dibaca tanpa merubah isi.



Tanda Husnul Khatimah
Senin, 07 April 2008 &#8211; 07:21:44,
Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Kategori : Mutiara Kata

Meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan husnul khatimah merupakan dambaan setiap insan yang beriman, karena hal itu sebagai bisyarah, kabar gembira [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/bersabar-dengan-kelakuan-ummat' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bersabar dengan kelakuan ummat'>Bersabar dengan kelakuan ummat</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram' rel='bookmark' title='Permanent Link: Puasa Assyura/Muharram'>Puasa Assyura/Muharram</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/salat-lima-waktu-ramadan-ke-ramadan-penghapus-dosa' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salat lima waktu, Ramadan ke Ramadan penghapus dosa'>Salat lima waktu, Ramadan ke Ramadan penghapus dosa</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini diambil dari <a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#038;id_online=628">situs Assyariah</a> dengan diberikan sedikit perbaikan dalam tampilan dll agar mudah dibaca tanpa merubah isi.</p>

<p><span id="more-91"></span></p>

<p><strong>Tanda Husnul Khatimah</strong><br />
Senin, 07 April 2008 &#8211; 07:21:44,<br />
Penulis : <em>Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah</em><br />
Kategori : Mutiara Kata</p>

<p>Meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan husnul khatimah merupakan dambaan setiap insan yang beriman, karena hal itu sebagai bisyarah, kabar gembira dengan kebaikan untuknya. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menyebutkan beberapa tanda husnul khatimah dalam kitabnya yang sangat bernilai Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha. Berikut ini kami nukilkan secara ringkas untuk pembaca yang mulia, disertai harapan dan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita termasuk orang-orang yang mendapatkan husnul khatimah dengan keutamaan dan kemurahan dari-Nya. Amin!</p>

<p><strong>Pertama: mengucapkan syahadat ketika hendak meninggal</strong>,<br />
dengan dalil hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menyampaikan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>

<p><em>“Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad yang hasan [1])</em></p>

<p><strong>Kedua:  meninggal dengan keringat di dahi.</strong><br />
<em>Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu ketika berada di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Didapatkannya saudaranya ini menjelang ajalnya dalam keadaan berkeringat di dahinya. Ia pun berkata, “Allahu Akbar! Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</em><br />
مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِيْنِ</p>

<p><em>“Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi.” (HR. Ahmad, An-Nasa<code>i, dll. Sanad An-Nasa</code>i shahih di atas syarat Al-Bukhari)</em></p>

<p><strong>Ketiga: meninggal pada malam atau siang hari Jum’at</strong>,<br />
dengan dalil hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau menyebutkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ</p>

<p><em>“Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi. Hadits ini memiliki syahid dari hadits Anas, Jabir bin Abdillah g dan selain keduanya, maka hadits ini dengan seluruh jalannya hasan atau shahih)</em></p>

<p><strong>Keempat: syahid di medan perang.</strong><br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ. فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ. يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ</p>

<blockquote>Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka beriang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka. Ketahuilah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 169-171)</blockquote>

<p>Dalam hal ini ada beberapa hadits:<br />
1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
لِلشَّهِيْدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ الْفَزَعَ الْأَكْبَرَ، وَيُحَلَّى حِلْيَةَ الْإِيْمَانِ، وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِيْنَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ</p>

<p><em>“Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih)</em><br />
2. Salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan: <em>Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapatkan fitnah (ditanya) dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:</em><br />
كَفَى بِبَارَقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً</p>

<p><em>“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah (ujian).” (HR. An-Nasa`i dengan sanad yang shahih)</em></p>

<p><strong>Kelima: meninggal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.</strong><br />
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَا تَعُدُّوْنَ الشَّهِيْدَ فِيْكُمْ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ. قَالَ: إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيْلٌ. قَالُوْا: فَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فيِ الطَّاعُوْنَ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَالْغَرِيْقُ شَهِيْدٌ</p>

<p><em>“Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.” Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha’un2 maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim)</em></p>

<p><strong>Keenam: meninggal karena penyakit tha’un.</strong><br />
Selain disebutkan dalam hadits di atas juga ada hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
<em>“Tha’un adalah syahadah bagi setiap muslim.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</em><br />
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tha’un, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya:<br />
إِنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلىَ مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُوْنُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ</p>

<p><em>“Tha’un itu adalah adzab yang Allah kirimkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Maka Allah jadikan tha’un itu sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Siapa di antara hamba (muslim) yang terjadi wabah tha’un di tempatnya berada lalu ia tetap tinggal di negerinya tersebut dalam keadaan bersabar, dalam keadaan ia mengetahui tidak ada sesuatu yang menimpanya melainkan karena Allah telah menetapkan baginya, maka orang seperti ini tidak ada yang patut diterimanya kecuali mendapatkan semisal pahala syahid.” (HR. Al-Bukhari)</em></p>

<p><strong>Ketujuh: meninggal karena penyakit perut, karena tenggelam, dan tertimpa reruntuhan,</strong><br />
berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ</p>

<p><em>“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</em></p>

<p><strong>Kedelapan: meninggalnya seorang ibu dengan anak yang masih dalam kandungannya,</strong><br />
berdasarkan hadits Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu ‘anhu. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa syuhada dari umatnya di antaranya:<br />
الْمَرْأَةُ يَقْتُلُهَا وَلَدُهَا جَمْعَاءَ شَهَادَةٌ، يَجُرُّهَا وَلَدُهَا بِسَرَرِهِ إِلَى الْجَنَّةِ</p>

<p><em>“Wanita yang meninggal karena anaknya yang masih dalam kandungannya adalah mati syahid, anaknya akan menariknya dengan tali pusarnya ke surga.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, dan Ath-Thayalisi dan sanadnya shahih)</em></p>

<p><strong>Kesembilan: meninggal dalam keadaan berjaga-jaga (ribath) fi sabilillah.</strong><br />
Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menyebutkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأًُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتّاَنَ</p>

<p><em>“Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizkinya serta aman dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim)</em></p>

<p><strong>Kesepuluh: meninggal dalam keadaan beramal shalih.</strong><br />
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ</p>

<p><em>“Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih)</em></p>

<p><strong>Kesebelas: meninggal karena mempertahankan hartanya yang ingin dirampas orang lain.</strong><br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ</p>

<p><em>“Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)</em><br />
<em>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu bila datang seseorang ingin mengambil hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan engkau berikan hartamu.” Ia bertanya lagi, “Apa pendapatmu jika orang itu menyerangku?” “Engkau melawannya,” jawab beliau. “Apa pendapatmu bila ia berhasil membunuhku?” tanya orang itu lagi. Beliau menjawab, “Kalau begitu engkau syahid.” “Apa pendapatmu jika aku yang membunuhnya?” tanya orang tersebut. “Ia di neraka,” jawab beliau. (HR. Muslim)</em></p>

<p><strong>Keduabelas: meninggal karena membela agama dan mempertahankan jiwa/membela diri.</strong><br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:<br />
مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ</p>

<p><em>“Siapa yang meninggal karena mempertahankan hartanya maka ia syahid, siapa yang meninggal karena membela keluarganya maka ia syahid, siapa yang meninggal karena membela agamanya maka ia syahid, dan siapa yang meninggal karena mempertahankan darahnya maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan At Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu dan sanadnya shahih)</em></p>

<p>Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.</p>

<hr />

<p>1 Penghukuman hadits ini dari Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam kitab yang sama.<br />
2 Satu pendapat menyebutkan bahwa tha’un adalah luka-luka semacam bisul bernanah yang biasa muncul di siku, ketiak, tangan, jari-jari dan seluruh tubuh, disertai dengan bengkak serta sakit yang sangat. Luka-luka itu keluar disertai rasa panas dan menghitam daerah sekitarnya, atau menghijau ataupun memerah dengan merah lembayung (ungu) yang suram. Penyakit ini membuat jantung berdebar-debar dan memicu muntah. (Lihat Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 14/425)
Penjelasan lain tentang tha’un bisa dilihat dalam Fathul Bari, 10/222,223) -pent.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/bersabar-dengan-kelakuan-ummat' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bersabar dengan kelakuan ummat'>Bersabar dengan kelakuan ummat</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/puasa-assyuramuharram' rel='bookmark' title='Permanent Link: Puasa Assyura/Muharram'>Puasa Assyura/Muharram</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/salat-lima-waktu-ramadan-ke-ramadan-penghapus-dosa' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salat lima waktu, Ramadan ke Ramadan penghapus dosa'>Salat lima waktu, Ramadan ke Ramadan penghapus dosa</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-husnul-khatimah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan Sejati</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/kebahagiaan-sejati</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/kebahagiaan-sejati#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 06:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/index.php/kebahagiaan-sejati/2007-10-18/</guid>
		<description><![CDATA[Sayyid Qutb:

kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa memberi pada orang lain


No related posts.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sayyid Qutb:</p>

<blockquote>kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa memberi pada orang lain</blockquote>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/kebahagiaan-sejati/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khotbah Ied Fitri 1428H: Sekali Shaum Tetap Shaum</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/khotbah-ied-fitri-1428h-sekali-shaum-tetap-shaum</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/khotbah-ied-fitri-1428h-sekali-shaum-tetap-shaum#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 03:54:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/index.php/khotbah-ied-fitri-1428h-sekali-shaum-tetap-shaum/2007-10-16/</guid>
		<description><![CDATA[Khutbah Idul Fithri 1428 H

SEKALI SHAUM TETAP SHAUM
Oleh: KH. DR. Surahman Hidayat, MA



الله أكبر 9 مرات, لا اله الاالله والله أكبر الله أكير ولله الحمد.

الحمد لله غافر الذنب وقابل التوب شديد العقاب ذي الطول لا اله الا هو واليه المصير. أشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد يحي ويميت [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/pahala-orang-yang-shaum-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahala orang yang shaum Ramadhan'>Pahala orang yang shaum Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/kerinduan-hati-akan-datangnya-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kerinduan Hati akan datangnya Ramadhan'>Kerinduan Hati akan datangnya Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/memaknai-hari-iedul-fitri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Memaknai Hari Iedul Fitri'>Memaknai Hari Iedul Fitri</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Khutbah Idul Fithri 1428 H</p>

<p>SEKALI SHAUM TETAP SHAUM<br />
Oleh: KH. DR. Surahman Hidayat, MA</p>

<p><span id="more-77"></span></p>

<p>الله أكبر 9 مرات, لا اله الاالله والله أكبر الله أكير ولله الحمد.</p>

<p>الحمد لله غافر الذنب وقابل التوب شديد العقاب ذي الطول لا اله الا هو واليه المصير. أشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو علي كل شيء قدير. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الأسوة الحسنة لمن كان يرجواالله واليوم الآخر. فصلوات الله وتسليماته عليه وعلي آله وآصحا به والذين اتبعوهم بإحسان الي يوم تشخص فيه الأبصار. أما بعد فياأيها المؤمنون اتقواالله حق تقاته في أنفسكم وأهليكم ليل نهار وفي العلانية والإسرار.</p>

<p>Allahu Akbar 3 X walillahil hamd
Ma’asyiral Muslimin, jama’ah shalat ‘ied rahimakumullah
Dengan mengagungkan asma Allah, marilah kita bertahmid, memuji serta bersyukur kehadiratNya. Karena atas taufiqNyalah kita telah dapat menuntaskan shiyamu ramadhan sebulan penuh, menyelesaikan qiyamu ramadhan tanpa bolong, merampungkan khatmul quran sekali atau lebih, menunaikan zakatul fithri dan zakatul mal dengan baik, serta mendukungnya dengan shadaqah dan shilaturahim kepada orang tua, guru, saudara, tetangga dan handai taulan.</p>

<p>Berkat kebesaran Asma Allah serta keluasan rahmatNya, para shaimin wal shaimat, yang sekaligus para mujahidin wal mujahidat, telah mampu menundukkan hawa nafsu untuk sepenuhnya tunduk diri pada perintah Allah SWT, menetapkan pilihan yang tepat yaitu ridha Allah meskipun abstrak daripada memperturutkan kesenangan nafsu hedonistik belaka, meski nampak dalam kasat mata berupa tumpukan harta atau kenaikan takhta, sebab tanpa ridha Allah semua itu selain tetap besifat fana juga akan berakhir menjadi bala bencana. Pada hari nan fithri ini Allah kembali mengkaruniakan kepada kita hari yang teramat istimewa, yaumul ‘id hari raya dan bersuka cita, yamul fithri hari kembali secara total pada kesucian fithrah, yaumul jaizah hari pembagian pahala dan piala kepada para alumnus pendidikan ramadhan. Semoga pada hari kemenangan ini kita mendapatkan yang terbaik (al afdhal) dari semua yang Allah sediakan bagi para shaimin wal shaimat, sehingga kita menikmati suasana ‘iedul fithri dengan penuh rasa syukur.</p>

<p>WALITUKMILUL ‘IDDATA WALITUKABBIRULLAHA ‘ALA MA HADAKUM WA LA’ALLAKUM TASYKURUN</p>

<p>“Dan hendaklah kamu sekalian menyempurnakan bilangan shiyam sebulan penuh, dan mengagungkan asma Allah sesuai dengan petunjukNya, mudah-mudahan kamu sekalian bersyukur” (QS2 al Baqarah: 184)</p>

<p>Allahu Akbar 3X walillahil hamd
Dengan rasa gembira bercampur sedih, atau dengan lelehan air mata bahagia kita melepas bulan puasa yang penuh berkah, magfirah serta rahmat Allah. Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Inilah yang harus mangisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita, sebagai pribadi, keluarga, warga masyarakat, ummat dan bangsa. Prestasi yang kita capai dengan ‘ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih “shiyamuddahri” , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.</p>

<p>Dalam rangka meraih nilai shiyauddahri itu maka Rasulullah saw menganjurkan ummatnya untuk melanjutkan shiyamu ramadhan dengan puasa sepekan di bulan syawal. Sebagaimana sabda beliau:
( مَنْ صَامَ رَمَضَان ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر )
“Barang siapa menunaikan shiyamu ramadhan dan diikuti puasa enam hari pada bulan syawal, maka nilainya seperti puasa sepanjang masa” (HR Muslim)</p>

<p>Kecuali melanjutkan ramadhan dengan puasa syawal, adalah penting meneruskan jiwa serta moralitas shiyamu ramadhan itu sendiri. Spirit shiyam dan qiyamu ramadhan adalah “imanan wahtisaban”, yaitu al tashdiq wal inqiyad, membenarkan segala yang datang dari Allah baik perintah maupun larangan dan mematuhinya; dengan semata-mata mengharap ridha Allah. Ketika Allah ridha, maka rahmatNya yang tak terhingga akan dicurahkan, kendatipun kita tersalah maka ampunanNya yang tak terbatas akan menutupinya” ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih” diampuni semua dosanya yang telah lalu.</p>

<p>Ramadhan telah mengupgrade pribadi muslim menjadi pribadi mu’min, dari keislaman yang bersifat status atau pengakuan menjadi keislaman komitmen dan kepatuhan. Dengan menghadirkan serta meneguhkan basis iman, setiap muslim mampu menjaga diri dari pelbagai kema’siatan. Seseorang tidak akan melakukan kedustaan/kebohongan dalam bentuk apapun selagi iman bersamanya, tidak ada kriminalitas pencurian atau korupsi dan manipulasi sebesar apapun selagi orang yang tergoda untuk melakukannya masih dikontrol dengan iman, dan tidak bisa terjadi penyimpangan susila oleh siapapun juga yang imannya masih bertahan di dalam dada.</p>

<p>Allahu Akbar 3X walillahilhamd
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Adapun akhlaqiyah atau moralitas ramadhan yang penting untuk tetap dipertahankan pasca ramadhan paling tidak ada lima:
1. Al shidqu yakni kejujuran.
Kejujuran merupakan bukti paling niscaya bahwa seseorang dalam suasana taqwa. Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة :119)
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan pastikanlah kamu sekalian bersama orang-orang yang jujur”
Kejujuran adalah gerbang menuju segala kebaikan, sedangkan ketidak jujuran akan membawa kepada pelbagai penyimpangan dan kejahatan. Orang harus berlatih untuk jujur, sekali dua kali tiga kali dan seterusnya, sehingga ia dicatat oleh Allah sebagai pribadi yang jujur (AL SHIDDIEQ). Kemudian telah ada jaminan dari Allah, bahwa orang jujur akan mujur, sedang yang tidak jujur cepat atau lambat akan hancur. Bukti empirik telah begitu banyak membenarkan korelasi ini.</p>

<ol>
<li><p>Al tathahhur yakni membersihkan diri
Ramadhan memang bulan suci, dan bagi yang menjalankannya dengan baik akan membersihkan dirinya dari segala noda dan dosa, sebab sebulan penuh orang yang puasa menjalani proses pembersihan yang menyeluruh. Hanya dengan cara demikian puasa seseorang diterima, dan do’anya dikabulkan. Kemudian bersama ‘idul fithri sepenuhnya kembali kepada kondisi fithrah. Adalah penting kita ingatkan kepada diri, janganlah apa yang sudah suci kita nodai lagi, sikap perilaku yang sudah bersih jangan kita kotori lagi.
Penghasilan yang sudah halal dan thayyib jangan sampai kita campuri lagi dengan yang remang-remang (syubhat) apalagi yang jelas-jelas haram. Puasa ramadhan melatih kita bersabar dan kuat menahan lapar, dan menegaskan bahwa kita tidak akan pernah kuat menahan panasnya api neraka.</p></li>
<li><p>Al ijabiyah, bersikap positif
Sikap positif menuntut kita untuk selektif dalam memilih lingkungan, dalam mengambil langkah, kegiatan dan mata pencaharian. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa sebagai alumnus pendidikan ramadhan, kita tidak melakukan kecuali pekerjaan yang baik, maslahat bagi kehidupan dan tanpa melanggar syari’ah. Sebab puasa yang benar menuntun dan menuntut kita untuk menjauhi “allaghwi wal rafatsi” yakni perkara yang sia-sia dan perkataan yang tidak pantas. Shiyamu ramadhan mendidik pribadi muslim untuk berorientasi kepada nilai, memilih aktivitas yang wajib, atau yang dianjurkan, atau setidaknya yang dibolehkan (jaiz) menurut tuntunan Islam. Dengan begitu insan yang shaim semakin mampu mengambil jarak dengan hal-hal yang makruh, semakin menjauhi yang syubhat apalagi yang haram.</p></li>
<li><p>Al mujahadah, membanting tulang
Dalam keadaan lapar dan dahaga shiyamu ramadhan memacu insan beriman untuk lebih giat lagi melakukan aktifitas taqarrub ilallah seperti shalat, tilawatil quran dan kegiatan yang bemanfaat bagi kehidupan sosial, seperti shilaturahim, infaq shadaqah, mengajarkan ilmu, memberi makanan berbuka bagi yang puasa, bahkan berjihad di jalan Allah menumpas pelbagai bentuk agresi terhadap Islam dan ummat Islam. Wajarlah sejarah mencatat di antara hasil mujahadah ramadhan berupa kemenangan gemilang di perang badar pada tahun ke-2 Hijriyah, pembebasan Makkah (fathu Makkah) pada tahun ke-6 Hijriyah, dan kemenangan perang Amoria yang meluluh lantahkan pasukan Romawi di Byzantium pada tahun 214 H pada masa Al Mu’tashim Billah. Memang semangat ramadhan adalah semangat juang untuk meraih pelbagai kemenangan.</p></li>
<li><p>Mempertahankan surplus spiritual (Al faidhu wal insyirah)
Shiyamu ramadhan mendidik surplus spiritual dan moral, menjaga diri agar tidak terjebak pada kekerdilan jiwa dan kenihilan moral. Mendidik para shaimin untuk mengokohkan jiwanya serta melapangkan dadanya. Dengan menegaskan pada dirinya “inni shaimun” aku ini sedang puasa, ia mampu menggagalkan setiap provokasi negatif yang akan merusak hubungan sosial menjadi konflik yang menghancurkan semua pihak. Bahkan semakin surplus jiwanya insan puasa yang telah memantapkan statusnya sebagai “’ibadurrahman/hamba Allah yang Rahman” sanggup membalas hal-hal yang buruk dengan kebaikan, tarikan negatif dengan ajakan yang positif. Ketika orang-orang jahil yang sedang jadi hamba syetan atau hawa nafsunya menyerang dengan ucapan yang tidak baik, maka hamba Arrahman membalasnya dengan do’a keselamatan.</p></li>
</ol>

<p>Allahu Akbar 3X walillahil hamd
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Demikianlah dengan mempertahankan jiwa shiyamu ramadhan serta moralitasnya, maka kehidupan kita pasca ramdhan selama sebelas bulan akan tetap disinari dengan cahaya ramadhan, sehingga kerahmatan Allah dan maghfirahnya akan senantiasa diberikan kepada siapa saja yang mampu mempertahankannya. Curahan berkah dari langit selama bulan ramadhan akan berlanjut manakala kita memenuhi faktor-faktor yang menghadirkannya.
Suatu tingkatan ketaqwaan yang telah kita raih harus kita pertahankan, jangan sampai mengalami degradasi apalagi peluruhan dan peluluhan. Karena hanya dengan ketaqwaanlah kita dapat menggapai kebahagiaan (al falah) yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah dalam banyak ayat:
وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah supaya kamu sekalian mendapat kemenangan/kebahagiaan” (QS 2/189, 3/130, 200)</p>

<p>Adapun fasilitas duniawi berupa harta atau tahta dan fasilitas lainnya, yang diraih tidak melalui jalan taqwa merupakan jebakan (istidraj) yang bila tidak dikoreksi akan terus meluncur dan berujung dengan azab Allah di dunia sebelum di akhirat kelak. Allah telah memperingatkan dengan firmanNya dalam Surah Taubah ayat 55 dan 85:
وَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
“Dan janganlah kamu silau dengan harta dan anak buah (pengikut) mereka, sejatinya Allah hendak mengazab mereka dengan itu semua di dunia, dan mereka mati dalam keadaan ingkar kepada Allah”</p>

<p>Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Dengan memelihara spirit dan moralitas shiyamu ramadhan, insya Allah kita tidak akan mengalami degradasi ketaqwaan apalagi peluruhan hingga tidak berbekas sama sekali. Dan dengan dipertahankannya kondisi ketaqwaan maka keberkahan dapat diharapkan, keberkahan individual dengan ketaqwaan individual, sedang keberkahan kolektif dengan ketaqwaan sosial. Allah SWT berfirman dalam surah al A’raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa niscaya Kami bukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan maka Kami siksa mereka karena apa yang telah mereka usahakan”.</p>

<p>Dengan adanya kewajiban da’wah serta amar ma’ruf-nahi munkar, setiap muslim/muslimah harus berupaya menghadiran ketaqwaan sosial di lingkungan masing-masing. Terutama apabila kita mempunyai posisi kepemimpinan di lingkungan tertentu, maka segenap potensi dan fasilitasi yang tersedia harus dikerahkan untuk membangun ketaqwaan/kesalehan sosial. Ini merupakan visi da’wah para anbiya, yang dinyatakan dalam do’a Nabiyullah Ibrahim a.s “RABBI HABLI HUKMAN WA ALHIQNI BISSHALIHIN” – Ya Rabbi, karuniakanlah kepadaku kebijaksanaan dan gabungkanlah aku dengan lingkungan orag-orang soleh. Kemudian do’a Nabi Yusuf a.s “TAWAFFANI MUSLIMA WA ALHIQNI BISSHALIHIN” Wafatkanlah aku dalam keadaan islam dan gabungkanlah aku dengan para solihin. Ketika kesalehan sosial dapat dihadirkan maka kehidupan yang serba baik (hayatan thayyibah) dapat diwujudkan, kemudian “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” menjadi kenyataan.</p>

<p>Do’a
Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami, telah menciptakan kami selaku hambaMu, Kami telah berjanji kepadaMu dan berupaya menepatinya. Kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah kami perbuat, kami akan kembali menghadapMu untuk mempertanggug jawabkan segala ni’mat yang telah Engkau berikan, dan kami akan kembali dengan banyak membawa dosa. Maka berilah kami ampunan , karena hanya Engkaulah Dzat yag Maha Pengampun.</p>

<p>Rabbana, berikanlah kepada kami kepandaian mensyukuri ni’mat yang Engkau berikan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami, agar dengan ni’mat itu kami mampu ber’amal shaleh demi ridhaMu, kami dapat mendidik dengan baik anak keturunan kami, dan masukkanlah Kami dengan kasih-sayangMu kedalam lingkungan hamba-hambaMu yang shaleh di dunia ini dan akhirat nanti.</p>

<p>Ya Allah, kami memohon kepadaMu petunjuk yang selalu membimbing hidup kami, ketaqwaan yang senantiasa memperkaya jiwa kami, kebersihan dalam tutur kata,pada harta serta kehormatan kami, serta ketidak tergantungan dalam hidup kami kecuali kepadaMu.</p>

<p>Rabbana, ampunilah segala dosa dan salah kami, segala dosa dan kesalahan kedua orang tua kami, serta curahkan kasih sayangMu kepada kedua sebagaimana mereka telah membesarkan/mendewasakan kami dengan curahan kasih sayangnya</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/pahala-orang-yang-shaum-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahala orang yang shaum Ramadhan'>Pahala orang yang shaum Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/kerinduan-hati-akan-datangnya-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kerinduan Hati akan datangnya Ramadhan'>Kerinduan Hati akan datangnya Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/memaknai-hari-iedul-fitri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Memaknai Hari Iedul Fitri'>Memaknai Hari Iedul Fitri</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/khotbah-ied-fitri-1428h-sekali-shaum-tetap-shaum/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>penyantun, rendah hati, pemurah dan budi pekerti</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/penyantun-rendah-hati-pemurah-dan-budi-pekerti</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/penyantun-rendah-hati-pemurah-dan-budi-pekerti#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2007 10:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/index.php/penyantun-rendah-hati-pemurah-dan-budi-pekerti/2007-05-08/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ada empat hal yang dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang tertinggi, walaupun amal dan ibadahnya sedikit, iaitu sifat-sifat penyantun, merendah hati, pemurah dan budi pekerti yang baik. Itulah kesempurnaan iman&#8221; Abul Qasim Al-Junaid  


Related posts:Kerinduan Hati akan datangnya RamadhanHati dan amalan dimata AllahBerpaling dari keberanaran akan di temani syaitan


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/kerinduan-hati-akan-datangnya-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kerinduan Hati akan datangnya Ramadhan'>Kerinduan Hati akan datangnya Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/hati-dan-amalan-dimata-allah' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hati dan amalan dimata Allah'>Hati dan amalan dimata Allah</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/berpaling-akan-di-temani-syaitan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berpaling dari keberanaran akan di temani syaitan'>Berpaling dari keberanaran akan di temani syaitan</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>&#8220;Ada empat hal yang dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang tertinggi, walaupun amal dan ibadahnya sedikit, iaitu sifat-sifat penyantun, merendah hati, pemurah dan budi pekerti yang baik. Itulah kesempurnaan iman&#8221; Abul Qasim Al-Junaid  </blockquote>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/kerinduan-hati-akan-datangnya-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kerinduan Hati akan datangnya Ramadhan'>Kerinduan Hati akan datangnya Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/hati-dan-amalan-dimata-allah' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hati dan amalan dimata Allah'>Hati dan amalan dimata Allah</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/berpaling-akan-di-temani-syaitan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berpaling dari keberanaran akan di temani syaitan'>Berpaling dari keberanaran akan di temani syaitan</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/penyantun-rendah-hati-pemurah-dan-budi-pekerti/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
