<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Islamic Thought</title>
	<atom:link href="http://blog.ar.or.id/islam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.ar.or.id/islam</link>
	<description>writing about a nasehat</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2010 17:42:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Protected: my cup is empty</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/my-cup-is-empty</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/my-cup-is-empty#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 14:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Notes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form action="http://blog.ar.or.id/islam/wp-pass.php" method="post">
    <p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
    <p><label for="pwbox-276">Password: <input name="post_password" id="pwbox-276" type="password" size="20" /></label> <input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p>
    </form>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/my-cup-is-empty/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The 500 Most Influential Muslims</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/the-500-most-influential-muslims</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/the-500-most-influential-muslims#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 00:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[An annual list of muslims who influence the ummah is published in PDF format. The introduction is a recommended reading for anyone even for a muslim.


No related posts.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>An annual list of <a href="http://www.rissc.jo/muslim500v-1L.pdf">muslims who influence the ummah is published</a> in PDF format. The introduction is a recommended reading for anyone even for a muslim.</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/the-500-most-influential-muslims/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta dan Mencintai Alloh</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/cinta-dan-mencintai-alloh</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/cinta-dan-mencintai-alloh#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 12:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[disadur ulang supaya enak dibaca dari Nia Al Akhfiya&#8217;s blog

Definisi Cinta

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, &#8220;Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; memba-tasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka ba-tasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.
Kebanyakan orang hanya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/mencintai-saudara-sebagaimana-mencintai-diri-sendiri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri'>Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/58' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengukur Cinta kepada Allah'>Mengukur Cinta kepada Allah</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>disadur ulang supaya enak dibaca dari <a href="http://azuraakhfiya.blogspot.com/2008/09/cinta-dan-mencintai-alloh.html">Nia Al Akhfiya&#8217;s blog</a></em></p>

<p><strong>Definisi Cinta</strong></p>

<p>Imam Ibnu Qayyim mengatakan, &#8220;Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; memba-tasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka ba-tasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.
Kebanyakan orang hanya membe-rikan penjelasan dalam hal sebab-musabab, konsekuensi, tanda-tanda, penguat-penguat dan buah dari cinta serta hukum-hukumnya. Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung kepada pengetahuan,kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini. (Madarijus-Salikin 3/11)</p>

<p><span id="more-263"></span></p>

<p><strong>Beberapa definisi cinta</strong></p>

<ol>
<li>Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).</li>
<li>Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.</li>
<li>Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seiya sekata dengannya, baik dengan sembunyi-sebunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.</li>
<li>Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.</li>
<li>Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.</li>
</ol>

<p><strong>Pembagian Cinta</strong></p>

<ol>
<li>Cinta ibadah<br />
Ialah kecintaan yang menyebabkan timbulnya perasaan hina kepadaNya dan mengagungkanNya serta bersema-ngatnya hati untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangaNya.
Cinta yang demikian merupakan pokok keimanan dan tauhid yang pelakunya akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang tidak terhingga.
Jika ini semua diberikan kepada selain Allah maka dia terjerumus ke dalam cinta yang bermakna syirik, yaitu menyekutukan Allah dalam hal cinta.</li>
<li>Cinta karena Allah<br />
Seperti mencintai sesuatu yang dicintai Allah, baik berupa tempat tertentu, waktu tertentu, orang tertentu, amal perbuatan, ucapan dan yang semisalnya. Cinta yang demikian termasuk cinta dalam rangka mencintai Allah.</li>
<li>Cinta yang sesuai dengan tabi&#8217;at (manusiawi),<br />
yang termasuk ke dalam cintai jenis ini ialah:

<ol>
<li>Kasih-sayang, seperti kasih-sayangnya orang tua kepada anaknya dan sayangnya orang kepada fakir-miskin atau orang sakit.</li>
<li>Cinta yang bermakna segan dan hormat, namun tidak termasuk dalam jenis ibadah, seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada pengajarnya atau syaikhnya, dan yang semisalnya.</li>
<li>Kecintaan (kesenangan) manusia kepada kebutuhan sehari-hari yang akan membahayakan dirinya kalau tidak dipenuhi, seperti kesenangannya kepada makanan, minuman, nikah, pakaian, persaudaraan serta persahabatan dan yang semisalnya.
Cinta-cinta yang demikian termasuk dalam kategori cinta yang manusiawi yang diperbolehkan. Jika kecintaanya tersebut membantunya untuk mencintai dan mentaati Allah maka kecintaan tersebut termasuk ketaatan kepada Allah, demikian pula sebaliknya.</li>
</ol></li>
</ol>

<p><strong>Keutamaan Mencintai Allah</strong></p>

<ol>
<li>Merupakan Pokok dan inti tauhid.<br />
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa&#8217;dy, &#8220;Pokok tauhid dan inti-sarinya ialah ikhlas dan cinta kepada Allah semata. Dan itu merupakan pokok dalam peng- ilah-an dan penyembahan bahkan merupakan hakikat ibadah yang tidak akan sempurna tauhid seseorang kecuali dengan menyempurnakan kecintaan kepada Rabb-nya dan menye-rahkan seluruh unsur-unsur kecintaan kepada-Nya sehingga ia berhukum hanya kepada Allah dengan menjadikan kecintaan kepada hamba mengikuti kecintaan kepada Allah yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman. (Al-Qaulus Sadid,hal 110)</li>
<li>Merupakan kebutuhan yang sangat besar melebihi makan, minum, nikah dan sebagainya.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata: &#8220;Didalam hati manusia ada rasa cinta terhadap sesuatu yang ia sembah dan ia ibadahi ,ini merupakan tonggak untuk tegak dan kokohnya hati seseorang serta baiknya jiwa mereka. Sebagaimana pula mereka juga memiliki rasa cinta terhadap apa yang ia makan, minum, menikah dan lain-lain yang dengan semua ini kehidupan menjadi baik dan lengkap.Dan kebutuhan manusia kepada penuhanan lebih besar daripada kebutuhan akan makan, karena jika manusia tidak makan maka hanya akan merusak jasmaninya, tetapi jika tidak mentuhankan sesuatu maka akan merusak jiwa/ruhnya. (Jami&#8217; Ar-Rasail Ibnu Taymiyah 2/230)</li>
<li>Sebagai hiburan ketika tertimpa musibah.<br />
Berkata Ibn Qayyim, &#8220;Sesungguh-nya orang yang mencintai sesuatu akan mendapatkan lezatnya cinta manakala yang ia cintai itu bisa membuat lupa dari musibah yang menimpanya. Ia tidak merasa bahwa itu semua adalah musibah, walau kebanyakan orang merasakannya sebagai musibah. Bahkan semakin menguatlah kecintaan itu sehingga ia semakin menikmati dan meresapi musibah yang ditimpakan oleh Dzat yang ia cintai. (Madarijus-Salikin 3/38).</li>
<li>Menghalangi dari perbuatan maksiat.<br />
Berkata Ibnu Qayyim (ketika menjelaskan tentang cinta kepada Allah): &#8220;Bahwa ia merupakan sebab yang paling kuat untuk bisa bersabar sehingga tidak menyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya. Karena sesungguhnya seseorang pasti akan mentaati sesuatu yang dicintainya; dan setiap kali bertambah kekuatan cintanya maka itu berkonsekuensi lebih kuat untuk taat kepada-Nya, tidak me-nyelisihi dan bermaksiat kepada-Nya.
Menyelisihi perintah Allah dan bermaksiat kepada-Nya hanyalah bersumber dari hati yang lemah rasa cintanya kepada Allah.Dan ada perbeda-an antara orang yang tidak bermaksiat karena takut kepada tuannya dengan yang tidak bermaksiat karena mencintainya.
Sampai pada ucapan beliau, &#8220;Maka seorang yang tulus dalam cintanya, ia akan merasa diawasi oleh yang dicintainya yang selalu menyertai hati dan raganya.Dan diantara tanda cinta yang tulus ialah ia merasa terus-menerus kehadiran kekasihnya yang mengawasi perbuatannya. (Thariqul Hijratain, hal 449-450)</li>
<li>Cinta kepada Allah akan menghilangkan perasaan was-was.<br />
Berkata Ibnu Qayyim, &#8220;Antara cinta dan perasaan was-was terdapat perbe-daan dan pertentangan yang besar sebagaimana perbedaan antara ingat dan lalai, maka cinta yang menghujam di hati akan menghilangkan keragu-raguan terhadap yang dicintainya.
Dan orang yang tulus cintanya dia akan terbebas dari perasaan was-was karena hatinya tersibukkan dengan kehadiran Dzat yang dicintainya tersebut. Dan tidaklah muncul perasaan was-was kecuali terhadap orang yang lalai dan berpaling dari dzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , dan tidaklah mungkin cinta kepada Allah bersatu dengan sikap was-was. (Madarijus-Salikin 3/38)</li>
<li>Merupakan kesempurnaan nikmat dan puncak kesenangan.<br />
Berkata Ibn Qayyim, &#8220;Adapun mencintai Rabb Subhannahu wa Ta&#8217;ala maka keadaannya tidaklah sama dengan keadaan mencin-tai selain-Nya karena tidak ada yang paling dicintai hati selain Pencipta dan Pengaturnya; Dialah sesembahannya yang diibadahi, Walinya, Rabb-nya, Pengaturnya, Pemberi rizkinya, yang mematikan dan menghidupkannya. Maka dengan mencintai Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala akan menenteramkan hati, menghidupkan ruh, kebaikan bagi jiwa menguatkan hati dan menyinari akal dan menyenangkan pandangan, dan menjadi kayalah batin. Maka tidak ada yang lebih nikmat dan lebih segalanya bagi hati yang bersih, bagi ruh yang baik dan bagi akal yang suci daripada mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Kalau hati sudah merasakan manisnya cinta kepada Allah maka hal itu tidak akan terkalahkan dengan mencintai dan menyenangi selain-Nya. Dan setiap kali bertambah kecintaannya maka akan bertambah pula pengham-baan, ketundukan dan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dan membebaskan diri dari penghambaan, ketundukan ketaatan kepada selain-Nya.&#8221;(Ighatsatul-Lahfan, hal 567)</li>
</ol>

<p><strong>Orang-orang yang dicintai Allah</strong></p>

<p>Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala mencintai dan dicintai. Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman di dalam surat Al-Ma&#8217;idah: 54, yang artinya: &#8220;<em>Maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah.</em>&#8220;.</p>

<p>Mereka yang dicintai Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala :</p>

<ul>
<li>Attawabun (orang-orang yang bertau-bat), Al-Mutathahhirun (suka bersuci), Al-Muttaqun (bertaqwa), Al-Muhsinun (suka berbuat baik) Shabirun (bersa-bar), Al-Mutawakkilun (bertawakal ke-pada Allah) Al-Muqsithun (berbuat adil).</li>
<li>Orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam satu barisan seakan-akan mereka satu bangunan yang kokoh.</li>
<li>Orang yang berkasih-sayang, lembut kepada orang mukmin.</li>
<li>Orang yang menampakkan izzah/kehormatan diri kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.</li>
<li>Orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah.</li>
<li>Orang yang tidak takut dicela manusia karena beramal dengan sunnah.</li>
<li>Orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah wajib.</li>
</ul>

<p><strong>Sebab-sebab mendapatkan Cinta Allah</strong></p>

<ul>
<li>Membaca Al-Qur&#8217;an dengan memikir-kan dan memahami maknanya.</li>
<li>Berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.</li>
<li>Selalu mengingat Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , baik de-ngan lisan, hati maupun dengan anggota badan dalam setiap keadaan.</li>
<li>Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala daripada dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.</li>
<li>Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.</li>
<li>Melihat kebaikan dan nikmatNya baik yang lahir maupun yang batin.</li>
<li>Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.</li>
<li>Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur&#8217;an , merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.</li>
<li>Duduk dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah dari para ulama dan da&#8217;i, mendengar-kan dan mengambil nasihat mereka serta tidak berbicara kecuali pembica-raan yang baik.</li>
<li>Menjauhi/menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala .</li>
</ul>

<p><em>(Disadur dari kalimat mutanawwi&#8217;ah fi abwab mutafarriqah karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd oleh Abu Muhammad)</em>.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/mencintai-saudara-sebagaimana-mencintai-diri-sendiri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri'>Mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/58' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengukur Cinta kepada Allah'>Mengukur Cinta kepada Allah</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/cinta-dan-mencintai-alloh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama adalah Nasihat</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/agama-adalah-nasihat</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/agama-adalah-nasihat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 14:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu &#8216;anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasihat, Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”

[Muslim no. 55]

[dari http://www.facebook.com/topic.php?uid=63402749433&#38;topic=11161 ]



Penjelasan:

Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu &#8216;anh, “<em>Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasihat, Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim</em>”</p>

<p>[Muslim no. 55]</p>

<p>[dari http://www.facebook.com/topic.php?uid=63402749433&amp;topic=11161 ]</p>

<p><span id="more-251"></span></p>

<p><strong>Penjelasan</strong>:</p>

<p>Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahasa arab tentang kata Al Fallaah yang tidak memiliki padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.</p>

<p>Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.
Tentang penafsiran kata nasihat dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lain mengatakan :</p>

<ol>
<li><p>Nasihat untuk Allah<br />
maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun”</p></li>
<li><p>Nasihat untuk kitab-Nya<br />
maksudnya beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada Rasul-Nya, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun, kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkan dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hokum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan menimani Kitabullah</p></li>
<li><p>Nasihat untuk Rasul-Nya<br />
maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun setelah wafat, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati hak-haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmunya dan mengajak manusia pada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.</p></li>
<li><p>Nasihat untuk para pemimpin umat islam<br />
maksudnya menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahu mereka apa yang menjadi hak kaum muslim, tidak melawan mereka dengan senjata, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka (tidak untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya), dan makmum shalat dibelakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.</p></li>
<li><p>Nasihat untuk seluruh kaum muslim<br />
maksudnya memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat kemungkaran dengan sikap santun, ikhlas dan kasih sayang kepada mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi hak miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana dia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan kepada mereka menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam</p></li>
</ol>

<p>Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain. Wallahu a’lam</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/agama-adalah-nasihat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpuasa Ramadhan dan ampunan</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/berpuasa-ramadhan-dan-ampunan</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/berpuasa-ramadhan-dan-ampunan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 13:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[

Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari, no. 1901; Muslim, no. 760).


Related posts:Pahala orang yang shaum RamadhanHadits Palsu tentang bulan RamadhanTarghib Puasa Ramadhan


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/pahala-orang-yang-shaum-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahala orang yang shaum Ramadhan'>Pahala orang yang shaum Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/hadits-palsu-tentang-bulan-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hadits Palsu tentang bulan Ramadhan'>Hadits Palsu tentang bulan Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/targhib-puasa-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Targhib Puasa Ramadhan'>Targhib Puasa Ramadhan</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bukhari.or.id/home/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=147:kewajiban-berpuasa-ramadhan&amp;catid=20&amp;Itemid=332"><img class="alignright" title="Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" src="http://bukhari.or.id/home/images/stories/assunnah/artikel/XII-05/kewajiban_puasa2.gif" alt="Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari, no. 1901; Muslim, no. 760)" width="283" height="62" /></a></p>

<p><em>Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.</em> (HR Bukhari, no. 1901; Muslim, no. 760).</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/pahala-orang-yang-shaum-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahala orang yang shaum Ramadhan'>Pahala orang yang shaum Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/hadits-palsu-tentang-bulan-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hadits Palsu tentang bulan Ramadhan'>Hadits Palsu tentang bulan Ramadhan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/targhib-puasa-ramadhan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Targhib Puasa Ramadhan'>Targhib Puasa Ramadhan</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/berpuasa-ramadhan-dan-ampunan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istighfar dan Eksistensi Diri</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-dan-eksistensi-diri</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-dan-eksistensi-diri#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 14:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayat]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Notes]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[istighfar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[(ringkasan/tafsir dari artikel Istighfar, Pesan Para Nabi dari Dakwatuna)

Ayat penting: 11:1-4,52,61,90; 3:135; 8:33

Surat Hud adalah surat yang membuat Abu bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah saw beruban. Keterkejutan ini dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, “Surat Hud dan saudara2nya telah membuat rambutku beruban”. Ternyata surat Hud dan surat2 terkait sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-obat-kesedihan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar obat kesedihan'>Istighfar obat kesedihan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-jalan-menuju-kebahagiaan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar jalan menuju kebahagiaan'>Istighfar jalan menuju kebahagiaan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/mukmin-bukan-seorang-pencaci-pemaki-penghina' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mukmin bukan seorang pencaci, pemaki, penghina'>Mukmin bukan seorang pencaci, pemaki, penghina</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(ringkasan/tafsir dari artikel <a href="http://www.dakwatuna.com/2007/istighfar-pesan-para-nabi/">Istighfar, Pesan Para Nabi</a> dari <a href="http://www.dakwatuna.com/">Dakwatuna</a>)</p>

<p>Ayat penting: 11:1-4,52,61,90; 3:135; 8:33</p>

<p>Surat Hud adalah surat yang membuat Abu bakar terkejut saat melihat rambut Rasulullah saw beruban. Keterkejutan ini dijawab oleh Rasulullah dengan sabdanya, “<em>Surat Hud dan saudara2nya telah membuat rambutku beruban</em>”. Ternyata surat Hud dan surat2 terkait sarat dengan perintah beristighfar yang disampaikan melalui lisan para nabiyullah Hud AS, Sholih AS dan Syu’aib AS.</p>

<p>Secara aplikatif, kebiasaan beristighfar sudah dicotohkan oleh Rasulullah saw. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim). Pelajaran yang diambil dari perilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali.</p>

<ol>
<li><p>Istighfar merupakan <strong>bukti penghambaan seorang manusia terhadap Penciptanya</strong>. Sebab hanya seorang hamba yang akan meminta ampun kepada penguasa dirinya. Begitu juga sebaliknya, Iblis, sebagai contoh makhluk yang sesat dan menyesatkan, saat di usir oleh Allah, bukannya istighfar malah menantang Allah. Kebiasaan beristighfar juga mereflesikan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan Ke-Maha Pengampunan Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam</p></li>
<li><p>Istighfar merupakan <strong>cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa</strong>. “<em>Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui</em>”. (Ali Imran:135)</p></li>
<li><p>Istighfar merupakan <strong>sumber kekuatan umat </strong>(Hud:52)</p></li>
<li><p>Istighfar dapat <strong>menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT</strong> (Al-Anfaal:33)</p></li>
<li><p>Istighfar akan <strong>memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang</strong>. (11:52) “<em>Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka</em>”. (Ibnu Majah)</p></li>
</ol>

<p>Wallahu&#8217;alam</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-obat-kesedihan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar obat kesedihan'>Istighfar obat kesedihan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-jalan-menuju-kebahagiaan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar jalan menuju kebahagiaan'>Istighfar jalan menuju kebahagiaan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/mukmin-bukan-seorang-pencaci-pemaki-penghina' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mukmin bukan seorang pencaci, pemaki, penghina'>Mukmin bukan seorang pencaci, pemaki, penghina</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-dan-eksistensi-diri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Larangan berburuk sangka</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/larangan-berburuk-sangka</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/larangan-berburuk-sangka#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 00:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[buruk sangka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/jiwa-itu-ibarat-prajurit-yang-dibariskan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jiwa itu ibarat prajurit yang dibariskan'>Jiwa itu ibarat prajurit yang dibariskan</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim No.4646)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/jiwa-itu-ibarat-prajurit-yang-dibariskan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jiwa itu ibarat prajurit yang dibariskan'>Jiwa itu ibarat prajurit yang dibariskan</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/larangan-berburuk-sangka/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musik Blues Ternyata Berasal dari Tradisi Islam</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/musik-blues-ternyata-berasal-dari-tradisi-islam</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/musik-blues-ternyata-berasal-dari-tradisi-islam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 11:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Link]]></category>
		<category><![CDATA[Notes]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[dari situs ini


No related posts.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dari <a href="http://www.mail-archive.com/ppiindia@yahoogroups.com/msg74785.html">situs ini</a></p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/musik-blues-ternyata-berasal-dari-tradisi-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda-tanda kiamat di depan mata</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-tanda-kiamat-di-depan-mata</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-tanda-kiamat-di-depan-mata#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 09:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Notes]]></category>
		<category><![CDATA[bioteknologi]]></category>
		<category><![CDATA[tanda-tanda kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Kutipan hadits arba&#8217;in an-nawawi nomor 2:

Kemudian dia berkata, &#8220;Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan
kejadiannya)&#8221;. Beliau bersabda,&#8221;Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya&#8221;. Dia berkata,&#8221;Beritahukan aku tentang tanda-tandanya&#8221;, beliau bersabda, &#8220;Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya&#8220;

Dalam tafsir hadits klasik, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/tanda-husnul-khatimah' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tanda Husnul Khatimah'>Tanda Husnul Khatimah</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/kesempurnaan-syariah-yang-dibawah-nabi-muhammad-saw' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kesempurnaan Syariah yang dibawah Nabi Muhammad SAW'>Kesempurnaan Syariah yang dibawah Nabi Muhammad SAW</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kutipan <a href="http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_books/single/id_forty_hadith_of_nawawi.pdf">hadits arba&#8217;in an-nawawi</a> nomor 2:</p>

<blockquote>Kemudian dia berkata, &#8220;Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan
kejadiannya)&#8221;. Beliau bersabda,&#8221;Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya&#8221;. Dia berkata,&#8221;Beritahukan aku tentang tanda-tandanya&#8221;, beliau bersabda, &#8220;Jika <strong>seorang hamba melahirkan tuannya</strong> dan jika engkau melihat <strong>seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya</strong>&#8220;</blockquote>

<p>Dalam tafsir hadits klasik, disebutkan anjuran bahkan larangan untuk tidak membangkang terhadap orang tua, beserta larangan untuk tidak meninggikan bangunan. Penafsiran seperti ini jika disalah artikan akan menjadi salah satu penyebab kemunduran umat islam karena umat islam disalah artikan sebagai anti kemajuan zaman. Padahal, syariah islam adalah syariah akhir zaman yang tidak akan diturunkan syariah lain hingga berakhirnya dunia ini (kiamat).</p>

<p>Lalu bagaimana mensikapi hal ini?</p>

<p>Pertama, jelas kita harus menghormati orang tua. Namun pembangkangan terhadap orang tua tidak terjadi pada saat ini saja, melainkan sejak zaman Nabi Adam AS pun terjadi. Sehingga, bukan itu poin yang ingin disampaikan oleh Nabi dalam dialognya dengan Jibril.</p>

<p>Kedua, kita tidak boleh berpandangan jumud yang menganggap bahwa kita tidak boleh maju. Justru kita sebagai manusia, berbeda dengan malaikat, dimana kita dianugrahkan kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan dan membangun serta memakmurkan bumi. Sehingga tidak mungkin dalam syariat akhir zaman ini (yaitu syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW) justru kita dilarang untuk membangun dan memakmurkan bumi dengan cara larangan mendirikan bangunan.</p>

<p>Ketiga, penyampaian tanda-tanda ini bukan dalam konteks larangan. Seperti saat kita bertanya kepada seseorang saat tersesat dalam perjalanan, maka tanda-tanda yang disampaikan adalah tanda-tanda yang mudah dipahami oleh orang yang menyampaikan maupun tentu saja orang yang bertanya. Dalam hal ini, berikut hal yang bisa kita pahami dari hadits tersebut.</p>

<ol>
<li><p>&#8220;seorang hamba melahirkan tuannya&#8221;<br />
Nabi SAW sebagai seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), tentu tidak mengenal istilah bioteknologi yang lahir diabad ke 21, dan semakin maju di abad ke 22 ini. Nabi menyampaikan tanda-tanda akhir zaman dalam bentuk bahasa yang mudah dipahami saat itu, dan tentu saja mudah dipahami oleh manusia zaman sekarang. Dalam beberapa tahun kedepan, kita akan lihat kemajuan yang semakin pesat dalam bidang bioteknologi, sehingga akan bisa kita saksikan seorang hamba/pegawai dibayar untuk melahirkan anak tuan/pemilik perusahaan.</p></li>
<li><p>&#8220;seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya&#8221;<br />
Hadits ini menceritakan mengenai urbanisasi serta modernisasi perkotaan yang sangat pesat ditandai dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang.</p></li>
</ol>

<p>Pada akhirnya, hadits ini menceritakan mengenai tanda-tanda kondisi diakhir zaman, tanpa memberikan larangan ataupun anjuran selain tanda-tanda. Dan kita bisa lihat sendiri kondisi disekeliling kita untuk kemudian mencocokkan dengan hadits tersebut.</p>

<p>Yang jauh lebih penting bagi kita sebenarnya adalah menyiapkan &#8216;kiamat kecil&#8217;, yaitu kematian yang pasti akan menemui kita semua.</p>

<p>Selain itu, hadits ini sebenarnya secara keseluruhan juga memberikan ciri dan syarat menjadi manusia muslim modern, yang berbeda dengan manusia muslim sebelum zaman Nabi SAW. Ulasan mengenai hal ini insya Allah akan ditulis dikemudian hari <img src='http://blog.ar.or.id/islam/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Wallahu&#8217;alam bishawab</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/tanda-husnul-khatimah' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tanda Husnul Khatimah'>Tanda Husnul Khatimah</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/kesempurnaan-syariah-yang-dibawah-nabi-muhammad-saw' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kesempurnaan Syariah yang dibawah Nabi Muhammad SAW'>Kesempurnaan Syariah yang dibawah Nabi Muhammad SAW</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/tanda-tanda-kiamat-di-depan-mata/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istighfar obat kesedihan</title>
		<link>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-obat-kesedihan</link>
		<comments>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-obat-kesedihan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 07:14:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arully</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.ar.or.id/islam/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).


Related posts:Istighfar jalan menuju kebahagiaanIstighfar dan Eksistensi DiriPentingnya shalat witir


Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-jalan-menuju-kebahagiaan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar jalan menuju kebahagiaan'>Istighfar jalan menuju kebahagiaan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-dan-eksistensi-diri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar dan Eksistensi Diri'>Istighfar dan Eksistensi Diri</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/pentingnya-shalat-witir' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pentingnya shalat witir'>Pentingnya shalat witir</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-jalan-menuju-kebahagiaan' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar jalan menuju kebahagiaan'>Istighfar jalan menuju kebahagiaan</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-dan-eksistensi-diri' rel='bookmark' title='Permanent Link: Istighfar dan Eksistensi Diri'>Istighfar dan Eksistensi Diri</a></li><li><a href='http://blog.ar.or.id/islam/pentingnya-shalat-witir' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pentingnya shalat witir'>Pentingnya shalat witir</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.ar.or.id/islam/istighfar-obat-kesedihan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
