Indeks Berita 2004/11/10 di Media Indonesia … Berita di Media Indonesia:
RAMADAN Dakwah Islam di Jepang bersama radio Tarbiyah
SIARAN langsung acara Ramadan di Tanah Air, baik menjelang buka puasa maupun pada saat sahur, bukanlah hal istimewa. Yang istimewa adalah siaran Ramadan untuk warga Indonesia di luar negeri, seperti yang dilakukan oleh radio Tarbiyah di Tokyo, Jepang.
Itulah yang menjadi pemikiran Ahmad rully, penggagas radio internet islami bernama radio Tarbiyah. Dari eksperimen radio internet yang dilakukannya tahun lalu, rully, lajang yang berusia 30 tahun dan tercatat sebagai peneliti dan mahasiswa S-3 pada Universitas Waseda, Tokyo, bertekad menyiapkan sarana dakwah bagi umat Islam Indonesia di Jepang. Dari tangan rully lahirlah radio Tarbiyah, radio internet yang disiarkan 24 jam, dengan perangkat komputer serbasederhana dari apartemennya di pinggiran selatan Tokyo.
Di bulan Ramadan, kehadiran radio Tarbiyah semakin terasa peranannya untuk membantu warga Indonesia mendengarkan ceramah Ramadan yang disiarkan langsung dari Balai Indonesia, rekaman-rekaman pengajian, pelajaran membaca Alquran, dan lagu-lagu nasyid. Dengan satu perangkat komputer yang disiapkan pihak Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), radio Tarbiyah setia menyiarkan langsung kegiatan Ramadan dari Balai Indonesia, gedung serbaguna milik pemerintahan RI yang terletak di kawasan Meguro. Gedung ini dikelola oleh Kedutaan Besar RI di Tokyo.
Sehari-harinya, Balai Indonesia berfungsi sebagai gedung Sekolah Republik Indonesia Tokyo, dan selama bulan Ramadan, sport hall lantai dua gedung ini berubah fungsi menjadi masjid untuk menampung umat Islam melaksanakan ibadah tarawih, pengajian, dan buka puasa bersama.
Menurut Ahmad rully, radio Tarbiyah secara resmi mulai dioperasikan sejak 18 Agustus 2003, dengan modal komputer yang ada di apartemennya. Waktu itu biaya operasional siaran sebesar 20 hingga 30 ribu yen atau sekitar 2 hingga 2,5 juta rupiah yang diambil dari uang tabungannya sendiri. Modal acaranya pun masih kebanyakan memutar lagu-lagu nasyid koleksi pribadi. “Setelah radio Tarbiyah mulai tersebar di kalangan muslim di Tokyo, cukup banyak permintaan agar acaranya lebih bervariasi, lagu nasyid-nya jangan yang itu-itu saja. Barulah setelah itu saya berpikir serius mengembangkan radio Tarbiyah dengan menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi Islam di Jepang dan di Indonesia dan Malaysia,” tutur rully yang telah kuliah selama 7 tahun di Tokyo.
Sebagai hasil upaya kerja sama yang dirintis, rully pun mulai mendapatkan kiriman koleksi nasyid dari Malaysia, mendapatkan kiriman ceramah-ceramah Aa Gym, dan menyiarkan langsung pengajian-pengajian berbagai organisasi Islam di Tokyo. rully pun akhirnya meminta bantuan lima orang teknisi untuk mengurus operasional siaran dan pengelolaan situs internet www.radiotarbiyah.net.
Bagi masyarakat muslim Indonesia di Tokyo, kehadiran radio Tarbiyah ini memang sangat terasa manfaatnya, karena bagi mereka yang tidak sempat menghadiri ceramah agama selama Ramadan tinggal mengakses internet dan mendengarkan siaran langsungnya. Dan bagi mereka yang bahkan tidak bisa mendengarkan siaran langsungnya, salah satu organisasi Islam yakni Keluarga Masyarakat Islam Indonesia di Jepang (KMII) menyediakan rekaman setiap kegiatan yang bisa di-download oleh siapa saja.
Ahmad Rusdiansyah, dosen Institut Teknologi Surabaya (ITS) yang tengah menyelesaikan pendidikan S-3 di Tokyo University of Technology, yang termasuk pendengar setia radio Tarbiyah mengatakan, radio Tarbiyah memang telah berkembang menjadi media dakwah dan silaturahmi komunitas muslim Indonesia. “Saya sering mendengarkan nasyid di radio Tarbiyah, dan kalau kesibukan kuliah tengah menumpuk, dan saya tidak sempat hadir di acara Ramadan, saya cukup membuka internet dan mendengarkan siarannya di radio Tarbiyah.”
Kini, kesibukan rully dan lima kru radio Tarbiyah lainnya makin bertambah menjelang hari-hari terakhir Ramadan, karena makin meningkat permintaan untuk tetap menayangkan rekaman ceramah agama setelah Ramadan. rully dan kawan-kawan memang bekerja secara sukarela dan tanpa pamrih.
Belakangan upaya swadaya rully mulai mendapat sumbangan dari organisasi Islam seperti KMII dan organisasi lainnya serta warga muslim di Jepang. Mereka ingin radio Tarbiyah terus mengudara sebagai jembatan persaudaraan umat Islam Indonesia di Jepang. Itu sejalan dengan moto radio Tarbiyah: menjalin ukhuwah mengikat ilmu.
Lily Yulianti Farid, warga Indonesia di Tokyo