Tue 3 May 2005
KISAH RAJAWALI-RAJAWALI
Oleh Satrio Arismunandar (Catatan tersisa dari liputan dan Raker Program SISI LAIN TransTV, di Dieng, Jawa Tengah, 27-29 April 2005)
Akan kuberi sebuah ilustrasi. Dalam film laga mandarin “Fist of Legend,� tokoh utama yang diperankan Jet Li bertarung tangan kosong melawan karateka terbaik Jepang, yang diperankan oleh Yasuaki Kurata. Sesudah pertarungan yang berjalan imbang, terjadilah dialog yang bersahabat di antara mereka. “Apa sebenarnya tujuan belajar kungfu?� tanya Yasuaki Kurata. “Untuk mencapai kemenangan?� jawab Jet :Li, agak ragu. “Bukan,� bantah Kurata. “Kalau cuma sekadar ingin menang, kau tak perlu susah payah belajar kungfu. Kau bisa menggunakan pistol. Tujuan kungfu sebenarnya adalah memaksimalkan energi!�
Yossie dan Dian melangkah di depanku, menyusuri pematang dan alur-alur ladang kentang dan bawang. Cuaca di lereng bukit yang kami lewati cukup cerah, bahkan agak panas, pada tengah hari itu. Aku berjalan di belakang kedua reporter SISI LAIN (SILA) tersebut sambil memanggul tripod. Di belakangku, Komar, cameraman SILA, berjalan dan sesekali berhenti untuk mengambil gambar. Kami baru saja mengambil gambar tugu peringatan terjadinya bencana alam tanah longsor 1955, yang menimpa Dukuh Legetang, di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Sekitar 350 orang, atau bisa dibilang hampir seluruh penduduk Legetang, tewas dalam bencana tersebut. Desa itu sendiri sekarang sudah tinggal sejarah. Pengambilan gambar ini adalah bagian dari liputan utama untuk program SILA, yang ditayangkan di TransTV tiap Selasa pukul 23.30. Sesudah liputan beberapa hari, akan langsung diteruskan dengan Raker Program SILA di Hotel Kledung Pass, Dieng, 27-29 April. Menjadikan lokasi liputan sekaligus sebagai lokasi Raker jelas lebih praktis dan menghemat biaya. Rabu, 27 April itu seharusnya liputan sudah selesai dan Raker dimulai. Tapi masih kurang sedikit gambar lagi. Narasi yang kami peroleh dari wawancara dengan Pak Agus Tjugianto, pemilik Hotel Kledung Pass, menyebut soal tugu peringatan bencana ini, padahal kami belum punya gambarnya secuil pun. Karena Raker baru akan dimulai pukul 16.00, kupikir masih cukup waktu untuk melengkapi liputan siang itu. Sebagai Producer, sebenarnya tak ada keharusan bagiku untuk ikut meliput. Tapi, menunggu di hotel sampai Raker dimulai, sangat menjemukan. Paling-paling aku hanya akan menghabiskan waktu dengan membaca buku “The Da Vinci Code,� yang belum juga tamat kubaca. Buku laris karya Dan Brown itu adalah hadiah dari crew SILA pada ulangtahunku, 11 April lalu. Selain itu, dataran Dieng yang diapit Gunung Sumbing dan Sundoro ini sangat menarik. Maka kuputuskan untuk ikut meliput. “Beautiful, Misty and Mysterous.� Cantik, berkabut dan misterius. Begitulah gambaran Pak Agus tentang alam Dieng. Contoh kemisteriusannya adalah bencana yang menimpa Dukuh Legetang. “Sebetulnya jarak antara gunung dan desa itu jauh, sehingga sulit diterima akal bahwa tanah longsor itu bisa menimpa desa. Jadi, tanah itu seolah-olah terbang dari gunung, dan menimpa desa. Ada cerita, bahwa banyak penduduk desa itu yang berperilaku tidak benar. Mirip kisah Soddom dan Gomorah,� ujar Pak Agus waktu itu. Berbagai kenangan peristiwa berkelebat dalam benakku, ketika kami turun menyusuri lereng bukit. Melihat ransel Fila di punggung Dian, dan bagaimana gadis lulusan Hubungan Internasional Unpad itu melompat kecil, melangkahi alur daun bawang di depanku, seperti membawaku ke masa lalu. Masa ketika aku masih bergabung dalam kelompok pencinta alam Kamuka Parwata FTUI. Masa mahasiswa itu sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi seperti baru berlalu beberapa minggu saja. Masa-masa pergolakan. Masa-masa pencarian diri. Masa-masa ketika seorang anak muda sangat berhasrat, untuk menjawab sekian banyak pertanyaan, tentang dirinya dan tentang di mana tempatnya di dunia ini…
“To travel is to take a journey into yourself.� Aku
lupa, di mana ungkapan itu pernah kubaca. Kalau tak
salah, itu pernah kubaca di sebuah laporan perjalanan
dari seorang penulis wisata. Aku setuju dengan
ungkapan itu, karena merasa sering mengalaminya
sendiri. Bepergian, seperti juga tugas liputan luar
kota untuk program SILA ini, seolah seperti melakukan
perjalanan di dalam diri.
Di tempat yang cukup berjarak dari rutinitas dan
tekanan kerja kantor, aku merasa lebih punya waktu.
Waktu untuk berpikir, merenung, mengevaluasi,
mempertimbangkan pilihan-pilihan yang pernah kuambil,
merancang pilihan-pilihan baru, dan memutuskan hal-hal
yang selama ini terabaikan.
Sebagai Producer di Divisi News TransTV, aku harus
menciptakan suasana di mana seluruh crew SILA merasa
bebas untuk berkreasi dan berkarya. Aku juga harus
mendorong agar mereka memunculkan seluruh
kemampuannya, tidak setengah-setengah, dan tidak mudah
puas dengan hasil liputan yang asal jadi saja. Namun,
aku juga harus tahu batas. Aku tak boleh berlebihan
mendesak mereka, untuk melaksanakan tugas-tugas yang
tidak lagi proporsional dengan kemampuan dan ketahanan
mereka.
Ujian itu muncul dalam perjalanan menuju tugu
peringatan, ketika kami masih di kaki bukit. Gambar
tugu itu sebenarnya bisa diambil dari kejauhan, tapi
hasilnya pasti tidak memuaskan. Namun, untuk mengambil
gambar dari jarak dekat, kami harus mendaki bukit yang
tampaknya cukup curam. Entah, berapa lama dan
kesulitan apa yang akan kami peroleh, jika tetap mau
mendaki bukit itu.
Kami bertanya ke seorang ibu petani kentang,
berapa lama harus berjalan kaki mendaki, untuk bisa
bisa sampai ke tugu. “Setengah jam, Pak,� jawabnya.
Setengah jam mendaki? Di tengah cuaca yang cukup panas
ini? Hanya untuk mengambil sebuah gambar tugu, yang
cuma akan muncul selama beberapa detik di layar kaca
paket liputan Dieng? Lumayan berat.
Karena Komar adalah cameraman, tanggungjawab
pengambilan gambar tertuju kepadanya, bukan ke Yossie
atau Dian. Sebagai producer, sebetulnya aku punya
otoritas untuk langsung memberi instruksi: “Mar, naik
ke bukit, dan ambil gambar tugu itu! Itu tugasmu!�
Tapi, itu bukanlah gayaku.
Yang keluar dari mulutku adalah: “Untuk
mendaki ke atas, perlu jalan kaki setengah jam.
Bagaimana pendapatmu, Mar?�
Aku lega dan bersyukur, Komar tidak menyerah
pada tantangan. “Kita sudah jauh-jauh ke mari, Mas.
Tanggung kalau kita pulang lagi, dan hanya mengambil
gambar dari jauh. Kita naik saja.�
“Hmm, begitu, ya?� Aku sebenarnya punya
kesimpulan yang sama. Namun, aku ingin penyikapan itu
keluar dari mulut crew-ku, bukan sekadar karena
mengikuti instruksi producer. “Aku akan tanya Yossie
dan Dian, apakah mereka mau ikut.�
“Aku dan Komar akan naik ke bukit untuk
mengambil gambar. Kalau mau ikut, silahkan. Tapi,
kalau kalian terlalu lelah dan mau istirahat di mobil,
juga tak apa-apa,� kataku pada Yossie dan Dian, di
dalam Suzuki APV yang kami sewa buat liputan.
“Saya ikut, Mas!� sahut Yossie, spontan. Aku
tahu, Yossie adalah mantan atlet wushu tingkat
nasional. Mendaki bukit jelas sekali tidak membuatnya
gentar. Dian sendiri juga tidak mau ketinggalan.
Maka, kami berempat akhirnya mendaki bukit.
Agar tidak membebani Komar, Dian dan Yossie dalam
pendakian ini, sengaja aku memanggul tripod. Jalan
yang kami lalui sebenarnya cukup lebar, tapi
persoalannya terletak di kecuramannya itu. Kami
mendaki pelan-pelan sekitar seperempat jam, dengan
beberapa kali berhenti.
Akhirnya, tugu itu pun tampak. Ternyata lama
pendakian tidak sampai setengah jam. Ada rasa lega,
bahwa pendakian ini ternyata tidak seberat yang
dibayangkan. Ibu petani kentang itu tampaknya kurang
pas memperkirakan waktu. Kami pun mengambil gambar
untuk liputan, ditambah sedikit foto untuk kenangan.
Untunglah, Yossie selalu membawa kamera digital.
Mengapa kami harus bersusah payah mengambil gambar
itu, hanya untuk beberapa detik tampilan di layar
kaca? Bukankah, jika tak kami ambil gambar itu, tak
akan banyak orang yang tahu atau perduli? Dan, paket
liputan ini toh tetap akan jadi juga? Motivasi apa
yang mendasarinya? Demi TransTV? Demi para pimpinan di
TransTV? Demi rating dan share? Demi menjadi yang
terunggul, dengan mengalahkan kompetitor kami di
stasiun-stasiun TV lain?
Tidak. Bukan semua itu. Kupikir, motivasi sebenarnya
adalah untuk kepuasan diri, bahwa kami telah
memberikan yang terbaik dari diri kami. Rating, share
dan kemajuan bisnis TransTV hanyalah implikasi dari
kesediaan para crew ini untuk memberikan yang terbaik
dari diri mereka.
Adalah kewajiban setiap orang untuk mengembangkan
dirinya semaksimal dan seoptimal mungkin. Pengembangan
diri itu akan terjadi jika ia menggali seluruh potensi
dirinya secara total, lewat kreasi dan karya. TransTV
hanyalah lahan tempat kami berkreasi, berkarya,
mengembangkan dan mengekspresikan diri. Apa yang telah
dilakukan para crew-ku di SILA itu menunjukkan, mereka
punya komitmen untuk memberikan yang tebaik. Semangat
inilah yang seharusnya diapresiasi dan dihargai.
Aku tidak akan menghina anak-anak muda di
program SILA ini dengan mengatakan, bahwa mereka di
TransTV cuma sekadar “numpang hidup� dan “cari
nafkah,� dan karena itu bisa diperlakukan seenaknya
oleh manajemen. Tidak. Ucapan semacam itu akan
merupakan penghinaan, yang secara tak langsung juga
mencerminkan kualitas orang yang melontarkannya.
Akan kuberi sebuah ilustrasi. Dalam film laga
mandarin “Fist of Legend,� tokoh utama yang diperankan
Jet Li bertarung tangan kosong melawan karateka
terbaik Jepang, yang diperankan oleh Yasuaki Kurata.
Sesudah pertarungan yang berjalan imbang, terjadilah
dialog yang bersahabat di antara mereka.
“Apa sebenarnya tujuan belajar kungfu?� tanya Yasuaki
Kurata.
“Untuk mencapai kemenangan?� jawab Jet :Li, agak
ragu.
“Bukan,� bantah Kurata. “Kalau cuma sekadar ingin
menang, kau tak perlu susah payah belajar kungfu. Kau
bisa menggunakan pistol. Tujuan kungfu sebenarnya
adalah memaksimalkan energi!�
Memaksimalkan energi! Itulah kuncinya. Seperti
seorang pendekar kungfu, seorang jurnalis juga
menghadapi berbagai tantangan dan persaingan.
Tantangan dan lawan-lawan yang tangguh itu berfungsi
untuk memancing keluar seluruh potensi dan sumberdaya
terpendam dalam diri kita. Maksimalkan seluruh
kekuatanmu, leburkan seluruh dirimu di dalamnya.
Tantangan tidak membuat kita lemah, tetapi –jika kita
tetap bertahan— justru akan membuat kita lebih
tangguh, lebih kuat, dan lebih percaya diri.
Namun, bukankah misi dan visi TransTV adalah untuk
menjadi TV terunggul di Indonesia, dan mendapat rating
tertinggi? Bukankah lembaga penentu rating, AC
Nielsen, merupakan “dewa� yang harus kita sembah, dan
laporan mingguannya menjadi “kitab suci� yang harus
kita baca dan analisis tiap minggu? Itukah
segala-galanya?
Kalau tujuannya CUMA ITU, kita tak perlu
repot-repot membuat liputan bagus atau merancang
program bermutu. Dengan biaya jauh lebih murah, kita
bisa menyewa sekelompok teroris atau bajingan, yang
cukup tega untuk menyabot dan membom studio-studio TV
kompetitor kita.
Jika stasiun-stasiun TV pesaing kita tak bisa
beroperasi, sudah pasti TransTV akan melenggang bebas
tanpa tandingan. Tujuan tercapai. Selesai. Persis
seperti ucapan Yasuaki Kurata pada Jet Li: “Untuk
menang, kau tak perlu belajar kungfu. Dengan pistol,
kau bisa menang dan membunuh musuh-musuhmu!�
Tapi bukan itu. Bukan seperti itu yang kita inginkan.
Dengan tulisan singkat ini, aku cuma mau bilang:
Manusia adalah aset TransTV yang terpenting, khususnya
di Divisi News. Mereka harus diperlakukan secara
manusiawi, dihargai, diapresiasi, dan dihormati. Ini
seharusnya menjadi komitmen kita semua, khususnya
bagian manajemen dan jajaran pimpinan.
Rating, share, iklan, uang, dan sebagainya
itu penting. Namun, itu bukan segala-galanya.
Terutama, jika kita masih menghargai para karyawan dan
jurnalis di TransTV ini sebagai manusia, yang punya
hati, punya perasaan, punya jiwa, sama seperti kita
semua.
Depok, Mei 2005
Kupersembahkan untuk seluruh karyawan dan jurnalis Divisi News TransTV, khususnya untuk para crew SISI LAIN:
Dedi Suchyar Rasyadian M. Putra Eko Darmawan Komarudin Ahmad Syakur Sugiarti Andika Marlia Yossie Dian Kencana Dewi
Aku percaya, mereka semua adalah rajawali-rajawali. Dan, sangkar emas tidak akan mengubah rajawali menjadi burung nuri.
Related posts:
- Tuhan Tak Bisa Disentuh, Tapi Dapat Diajak Dialog – Jaringan Islam Liberal (JIL)
- fighting spam
- Bahasa Indonesia, Siapa Yang Seharusnya Belajar? – KOMPAS.com
- Sifat orang sukses di akhirat yg mendapat kedudukan/jabatan di dunia
- hati yang berjauhan — from anonymous