Diskusi mengenai kalangan mana yang lebih cocok untuk menjadi anggota parlemen sering terjadi. Biasanya 2 kalangan yang berada di titik ekstrim yaitu ilmuwan di pihak obyektif, dan pengacara di pihak seberang (rasionalis). Kalangan ilmuwan sering menyalahkan dunia politik yang dianggapnya sering tidak mendasarkan keputusan-keputusan yang diambil dari fakta-fakta yang ada.

Di AS, perbandingan kedua kubu ini ternyata cukup njomplang, yaitu 215 pengacara dan 31 ilmuwan dan keahlian lainnya.

Menurut saya, politik sangat luas sehingga tidak bisa hanya dikuasai oleh satu pihak saja. Semuanya harus saling membantu. Yang jelas, saat mengambil keputusan ada 2 hal yang harus dikuasai:

  • informasi yang shahih
  • hati nurani yang bersih

Related posts:

  1. Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), baik atau tidak?
  2. Bahasa Indonesia, Siapa Yang Seharusnya Belajar? – KOMPAS.com
  3. niat baik dan kesudahan nya
  4. hati yang berjauhan — from anonymous
  5. Arti sebenarnya dari “jamming”