Artikel AP di sini menarik, sebab penyebabnya tidak diketahui apakah karena efek psikologis seperti stress dan semacamnya, ataukah “demons” seperti istilah yang dipakai dalam artikel tersebut.
Berikut kutipannya:
A photograph taken in the first days of the war had made the medic from New York’s Long Island a symbol of the United States’ good intentions in the Middle East. When he returned home, he was hailed as a hero.
But for most of the past five years, the 31-year-old soldier had writhed in a private hell, shooting at imaginary enemies and dodging nonexistent roadside bombs, sleeping in a closet bunker and trying desperately to huff away the “demons” in his head. When his personal problems became public, efforts were made to help him, but nothing seemed to work.
This broken, frightened man had once been the embodiment of American might and compassion.
Pengen nulis dalam bahasa Jepang, tp nanti pesan sebenarnya dari posting ini tidak kesampaian. Setelah mengubek-ubek Internet mencari berita dalam bahasa Inggris, akhirnya nemu juga berita dari Eropa di Guardian
Cerita yg ingin disampaikan sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana sistem pendidikan di Jepang mengajarkan rasa malu DAN rasa tanggung jawab. Rasa malu biasanya membuat orang untuk minta maaf. Tapi minta maaf saja biasanya tidak cukup untuk mengajarkan diri sendiri agar tidak mengulangi kembali tindakan yang salah. Di sinilah letak kekuatan pendidikan Jepang. Tidak saja rasa malu yang diajarkan, tetapi juga rasa tanggung jawab.
Dalam kasus ini, para mahasiswa pelaku pencoretan ini datang ke Florence, Italia dg biaya sendiri, dan memberikan uang ganti rugi sekedarnya sebesar 600 euro. Di TV Jepang, walaupun wajah mahasiswa pelaku nya tidak muncul, tetapi terlihat bagaimana salah seorang pelaku wanita meminta maaf dan menangis, sampai2 kurator gereja harus menenangkan dan menghiburnya.
Kenapa bisa terjadi ‘drama’ seperti diatas? Sebab kelakuan para mahasiswa ini bukanlah satu-satunya pelaku pencoretan dinding dan tempat bersejarah di Gereja di Florence tersebut, seperti kutipan berita dibawah ini:
But so many Italians and other tourists do the same thing that, as a cathedral official, Paolo Bianchi, acknowledged: “We have staff whose sole job every day is to rub out pierced hearts, declarations of love and travel graffiti.”
Pengalaman mengajar di Jepang, menambah keyakinan bahwa sikap malu dan tanggung jawab hanya bisa lahir karena pendidikan. Walaupun banyak hal yang saya tidak setuju terkait sistem pendidikan Jepang, namun dalam hal ini, saya pikir banyak yang bisa kita ambil sebagai acuan.
Ngomong2, bagaimana rasa malu orang Indonesia? Mungkin lumayan. Lalu bagaimana rasa tanggung jawab nya? Nah, ini beda kayaknya. Para pembaca blog ini pasti bisa menjawabnya sendiri
berharap suatu saat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang punya rasa malu dan bertanggung jawab
Anyone want to eat a Mortar (hamburger) and Terorist (snack)? You only can get it in Beirut, as reported in LA Times article
Ada tulisan menarik di blog resmi AOSI (Asosiasi Open Source Indonesia) berjudul “Tak Kenal Open Source, maka Tak Sayang”. Isinya artikel sekilas menarik perhatian, tapi ada fakta yang bisa menyesatkan, yang ditaruh di bagian atas. Saya kutip disini “Open Source Software (OSS) pada intinya terdiri dari Software Operating System Linux …”.
OSS bukan hanya Linux, tapi justru jauh lebih banyak lagi seperti BSD varian (OpenBSD, FreeBSD, dll) dan GNU/Hurd. Linux juga bukan operating system, tetapi kernel. Justru kalau mau disebut operating system, nama yang tepat (dan juga untuk menghormati pembuatnya) adalah GNU/Linux karena tanpa alat2 yang disediakan oleh GNU (GNU not Unix), maka kernel saja tidak akan ada manfaatnya.
Tapi repotnya memang, menjelaskan hal yang sebenarnya tanpa membuat pusing dan sulit pendengar
Bagaimana?