January 2010


Kasus bobolnya rekening tabungan beberapa orang di Bali melalui modus skimming telah membuka mata banyak orang mengenai resiko bahaya dari kemudahan menarik uang melalui ATM.

Di Indonesia, pihak Bank dengan mudah melemparkan tanggung jawab kepada nasabah. Tetapi di Jepang, tanggung jawab mengamankan ATM adalah tanggung jawab pihak Bank. Karena area ATM adalah area yang dimilik oleh Bank, dan bukan nasabah. Karena itu di Jepang, terutama dulu, banyak ATM tidak buka 24 jam.

Sekarang pun, walau memberikan layanan 24 jam, tetap diawasi dengan berbagai macam cara. Karena itu tadi, area ATM adalah area milik Bank, dan sudah seharusnya pihak Bank bertanggung jawab penuh.

Nah, untuk yang berada di Indonesia, sangat dianjurkan agar mempersiapkan diri dengan pengetahuan-pengetahuan penting. Terutama bagi yang suka menarik uang melalui ATM, silahkan baca baik-baik penjelasan Commonwealth Bank ini. Filenya juga bisa diunduh disini

(updated) perseteruan R[S|A] in a nutshell

Dari artikel berjudul Bahasa Indonesia, Siapa Yang Seharusnya Belajar? – KOMPAS.com, ada kutipan2 menarik:

  • Dr. James Sneddon, associate professor dari Griffith Unversity yang kini sudah pensiun, menyayangkan bentuk promosi yang menekankan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah. Hal ini memberi dampak yang negatif terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dianggap tidak penting. Seperti di Jepang, mahasiswa-mahasiswa yang dianggap kurang pandai selalu diarahkan untuk mengambil bahasa Indonesia. Akhirnya bahasa Indonesia berkesan sebagai bahasa yang hanya cocok dipelajari oleh orang-orang yang bodoh saja.

  • Kita selalu merasa bangga dan senang bukan kepalang kalau orang asing mampu berbicara dan menganggap penting bahasa Indonesia. Sebaliknya kita tidak merasa terganggu ketika sebagian dari kita tidak mahir berbahasa Indonesia.

Jadi sebetulnya siapakah yang seharusnya belajar bahasa Indonesia?